Sadya terbangun dengan napas tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menyeruak dari perutnya—bergolak, memaksa, tak bisa diabaikan.Belum sempat ia benar-benar sadar, Sadya sudah turun dari ranjang. Langkahnya tergesa, hampir tersandung, sebelum akhirnya sampai di depan wastafel. Sadya membungkuk dengan kedua tangannya bertumpu di tepi keramik dingin, lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.Napas Sadya terengah-engah. Tenggorokannya perih, matanya memanas, dan tubuhnya bergetar hebat. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hanya suara napasnya sendiri yang terdengar berat.Sadya menyalakan keran, membasuh mulutnya, lalu perlahan menegakkan tubuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, bibirnya kehilangan warna, dan sorot matanya menyimpan sesuatu yang asing—kebingungan bercampur ketakutan.“Nggak mungkin…, kan?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.Tangannya tanpa sadar meremas tepi wastafel. Pikir
Read more