Pintu kabin first class terbuka perlahan, memperlihatkan lorong pesawat yang mulai dipenuhi penumpang. Mayra melepas sabuk pengamannya dengan gerakan sedikit kesal, lalu melirik pria di sebelahnya.Savian sudah berdiri lebih dulu, rapi seperti biasa, seolah perjalanan satu jam lebih itu tak mengusik sedikit pun wibawanya. Setelan jas gelapnya masih sempurna, tailored fit yang jatuh presisi di bahu, dipadukan dengan kemeja putih bersih tanpa satu pun lipatan. Jam tangan eksklusif melingkar di pergelangan tangannya, menambah kesan dingin sekaligus mahal yang melekat kuat pada sosoknya.Mayra mengembuskan napas pelan. “Katanya dinas luar kota,” gumamnya, cukup pelan tapi jelas terdengar.Savian menoleh sekilas, alisnya terangkat tipis. “Singapura masih dekat.”“Dekat?” Mayra mendengus pelan sambil berdiri. “Iya sih, tapi beda negara, Savian.”Tak ada jawaban panjang. Pria itu membiarkan salah satu suruhannya untuk meraih koper kabin mereka, lalu memberi isyarat singkat agar Mayra berjala
Read more