Mayra terbangun perlahan di tengah malam, rasa tidak nyaman di perutnya memaksanya membuka mata. Ruangan masih temaram, hanya diterangi lampu tidur yang redup di sudut kamar. Ia menghela napas pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih setengah tertinggal di alam mimpi.Refleks, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya—kosong. Keningnya berkerut tipis.Seingatnya, ia dan Savian tengah menuntaskan serial Netflix sejak petang tadi. Jujur, dia sendiri tak ingat kapan dia mulai tidur dan meninggalkan Savian serta tontonannya. Netranya melirik penanda waktu yang menunjukkan kini sudah pukul satu dini hari. Serial Netflix yang tadi mereka tonton sejak sore sudah tidak lagi terdengar. Layar televisi kini gelap, berganti dengan alunan lagu lofi yang mengalir pelan, menenangkan, seolah sengaja diputar untuk menemani tidur. Itu pasti ulah Savian, memangnya siapa lagi?Gadis itu menurunkan kedua kakinya, menyentuh dinginnya lantai kamar yang membuatnya semakin mengernyit. Berjalan cepa
Baca selengkapnya