Ruang keluarga yang harusnya terasa hangat, mendadak berubah seperti ruang tunggu sebelum sidang dimulai.Mayra duduk tegak di ujung sofa, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Di sebelahnya Savian bersandar santai, tetapi hanya dari luar. Rahangnya mengeras tipis, tatapannya datar ke arah tamu yang baru datang seolah tidak berniat membuka percakapan lebih dulu.Di sofa seberang, Anindita duduk dengan kaki menyilang. Mantel panjangnya bahkan belum sempat dilepas sempurna, tanda bahwa ia memang datang terburu-buru begitu tiba. Sikapnya rapi, elegan, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru menempuh perjalanan jauh.Mayra diam-diam memperhatikannya. Wanita ini pernah ditemuinya di toko perhiasan beberapa waktu lalu. Yang saat itu berbicara dengannya dengan ramah, mengomentari koleksi mahal, dan sempat membuat Mayra berpikir bahwa dia adalah perempuan berkelas yang menyenangkan.Dan sekarang… wanita itu duduk di hadapannya sebagai kakak Savian alias kakak iparnya juga.Sulit dipercay
더 보기