Mayra menutup pintu kamar mandi dengan cepat, seolah ingin memutus seluruh kebisingan yang sejak tadi mengejarnya. Suara tawa, bisik-bisik, dan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para tamu kearahnya masih terngiang di kepalanya. Ia bersandar pada pintu, menarik napas panjang, mencoba mengembalikan ritme detak jantungnya yang terasa terlalu cepat.Ruang itu hening. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar, naik turun tak beraturan. “Tenang… ini cuma sebentar,” gumamnya pelan.Mayra berjalan perlahan ke wastafel, menatap bayangannya di cermin. Riasannya masih sempurna, gaunnya masih anggun, tapi matanya… jelas menyimpan kelelahan. Ia membuka keran, membasuh pergelangan tangan dan mencipratkan sedikit air ke wajahnya, berharap rasa dingin itu bisa menenangkan pikirannya."Ok, kamu sudah bertahan dengan baik, Mayra," gumamnya pada dirinya sendiri.Adaptasi. Meskipun setiap berada dalam kerumunan ia akan terlihat baik-baik saja, kuat dan seolah tak kekurangan apapun, Mayra sebenarnya j
Read more