Di puncak gunung belakang Kompleks Graha Sentosa. Seekor kucing hitam kecil berdiri sendirian, ekornya terkulai, kepalanya terangkat menatap bulan purnama di atas. Wajahnya, kalau seseorang memperhatikannya cukup lama, menampilkan ekspresi yang terlalu rumit untuk seekor kucing biasa. Kemudian ia mengeong. Rendah, panjang, dan penuh perasaan. "Akhirnya!" "Aku, Leluhur Mortis, akhirnya bisa keluar!" Siapa yang menyangka bahwa dirinya, yang dulunya adalah kultivator Ranah Transenden yang namanya membuat seluruh Dunia Kultivasi berdebar, sekarang berdiri di puncak gunung kecil di dunia antah berantah ini dengan tubuh seekor kucing. Dahulu, wanita mana yang tidak gemetar mendengar namanya? Master mana yang tidak mundur selangkah begitu mendengar Leluhur Mortis disebutkan? Tapi semua itu bermula dari satu keputusan yang, kalau dipikirkan lagi, mungkin memang tidak terlalu bijak. Teknik kultivasi Dao Tiga Ribu Bidadari Surgawi. Dipilihnya teknik itu bukan karena kekuatannya, tap
더 보기