Pendeta tua itu meremas telapak tangannya satu kali. Sudah tiga puluh tahun dia berhenti di bawah ambang Ranah Maestro, tidak bisa maju, tidak bisa mundur. Usianya sudah tidak memungkinkan dia menunggu lebih lama lagi. 'Kalau ada orang dengan aura sekelas itu yang bergerak malam ini, mungkin ini kesempatan.' 'Menyaksikan pertempuran antara dua kekuatan di ujung batas manusia bisa membuka jalan yang selama ini tersumbat.' Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melompat ke udara, kakinya menginjak angin, bergerak ke arah pusat Metropolitan Alexandris. Dia bukan satu-satunya. Di berbagai sudut kota dan pinggiran kota, beberapa sosok lain yang sudah merasakan gelombang aura tadi satu per satu bangkit dari tempat masing-masing. Ada yang sedang bermeditasi, ada yang sedang tidur, ada yang sedang berjaga di atap bangunan. Semua berhenti melakukan apapun yang mereka lakukan, merasakan sesuatu yang sama, lalu bergerak. Seperti serbuk besi yang ditarik magnet, semuanya menuju arah ya
Read more