Ryan turun ke tanah dengan langkah yang tidak terburu-buru. Debu masih mengambang di udara, tebal dan hangat, membawa bau semen tua dan kayu yang hancur. Di tengah semua itu, Darius Surya tergeletak di antara puing-puing dengan kedua kaki yang sudah tidak berguna. Tapi matanya masih menyala. Ryan berdiri tepat di sampingnya, menatap ke bawah. "Sakit?" Suaranya tidak naik, tidak turun. Datar seperti permukaan danau yang baru saja berhenti dilempar batu. "Aku juga pernah sakit. Waktu kamu pisahkan Elena dari ibunya. Waktu putri kecilku diracuni karena ulah keluargamu." Dia tidak melanjutkan langsung. Satu detik. Dua detik. "Rasa sakitku waktu itu jauh lebih dari apa yang kamu rasakan sekarang." Darius tidak menjawab. Rahangnya mengatup keras, urat di lehernya menegang. Lalu, dari tempat yang sangat dalam di dalam dadanya, keluarlah sesuatu yang tidak sehat. Dia tertawa. Tawa itu kasar, pecah di tengah, tawa orang yang sudah melepas semua yang selama ini dia jaga. Busa d
Last Updated : 2026-05-10 Read more