Belum lama mereka melanjutkan perjalanan, ponsel Mira berbunyi. Ia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menutup dengan ekspresi yang menahan sesuatu di antara kesal dan pasrah. "Kakek minta kita ajak Tuan Ryan makan dulu." Hector memutar matanya pelan ke arah jendela, kemudian mengangguk. "Kalau itu perintah Kakek, ya sudah." Porsche itu berhenti di depan sebuah restoran yang fasadnya terbuat dari marmer dan kaca gelap. Papan namanya terpasang dengan font emas yang mencolok, Restoran Permata Majestic. Begitu Hector turun, dua karyawan yang berdiri di depan pintu langsung bergerak ke arahnya. "Tuan Muda Hector, selamat datang!" "Tuan Muda Hector sudah lama tidak ke sini!" "Nona Mira..." Mira tersenyum sekilas. Hector menerima penghormatan itu dengan naturalnya, bahunya sedikit lebih tegak dari biasanya. Ia secara refleks melirik ke arah Ryan di belakang, ingin melihat apakah ada kesan yang terbentuk. Sebuah senyum kecil tanpa sadar menyelinap ke ujung bibirnya. Inil
Read more