Udara di tepi danau itu diam lebih lama dari yang nyaman. Wendy mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, lalu menatap Ryan. Senyumnya muncul, tapi bukan senyum yang hangat, lebih seperti sesuatu yang menyakitkan dirinya sendiri. "Ryan, apa ini menyenangkan bagimu?" Ryan mengerutkan kening, tidak langsung mengerti ke mana arah kalimat itu. "Kalau kau punya tempat semewah itu," Wendy melanjutkan, suaranya mulai bergetar di tepi, "kenapa dari awal kau minta aku yang perkenalkan kau ke perusahaan?" "Kenapa kau biarkan aku punya kesan yang jelek tentangmu?" Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih keras. "Dan kalau kau memang sekaya itu, kenapa hadiahnya seperti itu? Sengaja mempermalukanku di depan semua orang?" Air matanya tidak bisa ditahan lagi. "Kalau memang kau mau pura-pura jadi orang biasa, harusnya sampai selesai." "Sekarang semuanya terbuka, apa yang kau dapat? Puas lihat aku terlihat bodoh?" Semakin banyak kata yang keluar, semakin keras
Read more