LOGINSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Munis Jilbab, dan Kak Dany Danie atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini. Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan menoleh kepada Tavian Suira dengan sedikit heran. "Bagaimana kau bisa yakin tidak ada seorang pun dari Keluarga Sinclair di antara wajah-wajah ini?" "Karena Keluarga Suira pernah menyelidiki rombongan yang menaiki kapal hantu dua puluh tahun lalu." Tavian mengamati relief di sekelilingnya. "Aku mengenali semua wajah yang terperangkap di sini. Tidak satu pun berasal dari Keluarga Sinclair." Emeric Tanner mengerutkan kening. "Aneh. Kalau semua tokoh kuat yang hilang berubah menjadi wajah manusia di dinding, kenapa hanya orang-orang Keluarga Sinclair yang tidak ada?" Belum ada yang menjawab ketika seluruh kapal hantu mendadak berguncang hebat. Dinding-dinding balai bergetar, seolah tak terhitung banyaknya arwah sedang meronta dan berusaha menerobos masuk. "Mudah saja. Karena semua wajah manusia di dinding ini adalah hasil karya Keluarga Sinclair!" Suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Semua orang serentak berbalik dan mendapati permukaan dinding bergelomban
Mendengar janji Jasper Sterling, mata Hector langsung berbinar. Seluruh pemahaman kultivasi seorang tetua senior jelas bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah. Tanpa memikirkan nasib pemuda yang sebelumnya ditelan dinding, Hector segera menghampiri relief itu dan menggenggam tangan yang dijulurkan Jasper. Ia menariknya, berniat membantu sang kakek keluar. Namun sebelum Hector sempat mengerahkan tenaga, tangan Jasper justru mencengkeramnya erat dan menariknya ke arah dinding. "Apa?!" Tubuh Hector tenggelam ke dalam batu seolah permukaannya berubah menjadi lumpur. Kedua kakinya sempat menendang dua kali, tetapi dalam sekejap seluruh tubuhnya sudah lenyap. Dinding itu berdenyut beberapa kali seperti perut binatang yang sedang mencerna makanan. Dari baliknya terdengar suara tulang remuk, lalu darah merah pekat merembes keluar melalui sela-sela pahatan. Semuanya terjadi terlalu cepat. Bahkan Roderick Sterling tidak sempat bergerak untuk menolongnya. Ketika orang-orang
Rombongan itu kembali ke tempat peti mati kuno di lantai dua kapal hantu. Patung Grandmaster Bramwell yang terjungkal saat kapal berguncang tadi juga masih tergeletak di lantai, dengan sejumlah retakan pada tubuhnya.Semua orang memandang Silas Stein yang berjalan paling depan dengan bingung. Beberapa di antara mereka bahkan melirik peti mati itu dengan waswas, teringat bagaimana Sean berubah menjadi makhluk mengerikan setelah masuk ke dalamnya."Kenapa kita kembali ke sini?" tanya seseorang."Ada yang belum kalian ketahui. Peti mati ini memiliki mekanisme tersembunyi, dan inilah satu-satunya jalan menuju lantai tiga," jawab Silas.Tanpa menjelaskan lebih jauh, Silas maju dan menepuk sisi peti mati dengan telapak tangan."Bangkit!"Boom!Peti mati itu bergetar keras, lalu terbalik dalam sekejap. Silas segera melompat ke dalamnya sambil berseru, "Ikuti aku!"Ryan langsung menyusul. Setelah mel
Ucapan Panglima Kenan membuat Ryan tertegun. Ryan segera menyipitkan mata, terutama setelah mendengar sang panglima menyebut seseorang bermarga Bramwell."Bramwell? Apa orang yang kau maksud adalah Grandmaster Bramwell?""Benar." Panglima Kenan mengangguk perlahan. "Sejak tuan dan nyonya gugur, sementara putri kecil menghilang, kami menjelma menjadi arwah dan terus merana di kapal ini selama lebih dari seratus tahun."Ketika mengatakan itu, tubuh Panglima Kenan mulai memudar. Bagian ujung zirah hitamnya perlahan berubah menjadi asap tipis yang melayang ke udara."Tunggu!" Ryan buru-buru maju selangkah. Masih ada satu hal penting yang harus dipastikannya."Putri kecil yang kau maksud, apakah seorang gadis berusia empat atau lima tahun bernama Lulu?""Kau bahkan mengetahui nama kecil putri kami!"Senyum di wajah pucat Panglima Kenan semakin lebar. Sorot matanya yang sebelumnya dipenuhi kebenci
Siluman Giok dari Mesir Kuno menyaksikan pembantaian itu dengan wajah pucat. Melihat Ryan terus merobohkan para ahli tanpa kesulitan, keberaniannya runtuh. Ia buru-buru mundur sambil menjerit, "Kaisar Iblis Gila dari Selatan, kau tidak boleh membunuhku!" "Aku putri yang dinobatkan keluarga kerajaan Mesir Kuno. Kalau kau..." "Matilah!" Ryan menghantamkan telapak tangannya sebelum Siluman Giok sempat menyelesaikan ucapan. Kepala perempuan itu langsung pecah, menyemburkan darah dan serpihan tulang. Tubuh tanpa kepalanya sempat berdiri kaku sesaat sebelum roboh ke lantai. Kedudukan sebagai putri keluarga kerajaan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menyelamatkan diri. "Kita mati bersama!" Kaisar Halilintar Thor tiba-tiba meraung. Kilatan petir menyembur dari sekujur tubuhnya, sementara rambutnya berdiri tegak. Kulitnya mulai retak dan memancarkan cahaya biru yang semakin terang. Thor tahu kekuatannya tidak cukup untuk mengalahkan Ryan. Karena sudah tidak memil
Pfft! Darah menyembur dari mulut Aaron Baldwin, disertai bunyi tulang dan persendian yang remuk. Tubuhnya terlempar ke belakang seperti layang-layang putus, lalu menghantam lantai dengan keras hingga papan kapal bergetar. Semua orang langsung terpaku. Evan Sinclair dan para ahli yang sedang menerjang Ryan bahkan menghentikan serangan mereka begitu menyadari siapa yang baru saja terpental. Aaron Baldwin, peringkat ketiga Daftar Maestro, ternyata dikalahkan hanya dengan satu raungan! Aaron mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya menatap Ryan seolah sedang melihat monster, sedangkan lengan kanannya terkulai bengkok pada sudut yang tidak wajar. Tulang dan persendiannya telah hancur akibat benturan kekuatan tadi. "Kau..." Aaron berusaha bicara, tetapi darah kembali merembes dari bibirnya. Bahkan para prajurit arwah yang sebelumnya terus menyerang tiba-tiba berhenti. Prajurit yang sempat membisikkan sesuatu tentang putri kecil kepada Ryan memandangnya dengan sorot mata ya
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap







