เข้าสู่ระบบSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Munis Jilbab, dan Kak Dany Danie atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini. Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Bantara mengangguk, lalu membawa semua orang keluar dari lift.Begitu melangkah ke depan, yang menyambut pandangan mereka adalah sebuah balai luas. Ukurannya lebih dari tiga ratus meter persegi. Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan cahaya ke permadani merah tua yang terbentang di lantai.Di pintu masuk balai, dua lelaki tua berjubah abu berdiri berjaga. Keduanya memejamkan mata seperti orang mengantuk, tetapi daya yang merembes tipis dari tubuh mereka membuat Terence Siven dan yang lain langsung waspada dalam hati.Orang kuat.Bahkan sekadar berdiri di sana, mereka sudah memberi tekanan yang tidak bisa diabaikan.Bantara menghampiri kedua lelaki tua itu dan berbicara beberapa patah kata. Setelah mendapat izin, ia menoleh dan memberi isyarat agar semua orang masuk.Ketika Ryan Hartono melewati mereka, salah seorang lelaki tua tiba-tiba membuka mata. Tatapannya jatuh tepat kepada Ryan.“Kau Kaisar Iblis Gila dari Selatan?”Tatapan Ryan langsung menghunjam ke
“Lalu?” Ryan Hartono membalas tatapan pemuda itu tanpa menghindar. Matanya tenang, tetapi ketajamannya seperti bilah pisau yang baru ditarik dari sarung.Pemuda di hadapannya menunduk, mengamati sepuluh jarinya sendiri dengan sikap malas, seolah semua orang di lorong itu tidak layak membuatnya serius.“Bisa berdiri tanpa goyah di bawah tekananku, berarti kau memang punya sedikit kemampuan,” katanya pelan. “Pantas saja kau sanggup membunuh dua sampah tak berguna seperti Tuan Muda Draven.”Sebelum Ryan sempat membalas, pemuda itu mengangkat kepala. Ia maju satu langkah, lalu mendekatkan wajahnya sampai jaraknya nyaris menempel dengan Ryan. Senyum di bibirnya licik dan dingin.“Namaku Ferran Draven. Ingat baik-baik nama ini, sebab kau akan mati di tanganku.”Setelah melemparkan kalimat itu, Ferran berbalik seolah hendak pergi begitu saja.Namun suara datar Ryan terdengar dari belakangnya. “Memangnya aku
Menghadapi ejekan itu, Lorenzo hanya tersenyum tipis.Ia melirik punggung Ryan Hartono yang semakin jauh dengan pandangan penuh arti, lalu berkata santai, “Kenapa? Kakak Devlin juga gagal merekrut orang itu?”“Merekrut?”Damon Devlin langsung mencibir, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol malam itu. “Dia cuma semut dari dunia biasa.” “Merekrut apanya? Aku bicara dengannya hanya karena suasana hatiku sedang baik.” “Kebetulan aku ingin memelihara seekor anjing di sisiku, supaya sesekali bisa kupukul dan kumarahi.”Namun setelah kalimat itu keluar, Damon segera menangkap maksud tersembunyi dalam ucapan Lorenzo. Senyum dingin muncul di sudut bibirnya.“Jangan-jangan orang itu juga menolak niat baikmu?”“Menolak?” Lorenzo tersenyum tipis. “Dibandingkan Kakak Devlin, aku justru lebih malu. Sebab orang itu bahkan tidak menggubrisku sama sekali.”“Rupanya perangai anjing ini memang sekeras kabarny
Setengah jam kemudian, iring-iringan mobil mewah itu tiba dengan selamat di Hotel Internasional Alexandris. Dari luar, hotel tersebut tidak tampak terlalu berbeda dari bangunan mewah lain di kota itu. Lampu-lampu keemasan menerangi fasad kaca, karpet merah terbentang di depan pintu utama, dan beberapa petugas hotel berdiri rapi dengan senyum profesional. Namun kenyataannya, tempat itu sudah dijaga begitu rapat sampai seekor lalat pun sulit menyelinap masuk tanpa diketahui. Kultivator berbusana hitam yang tak terhitung jumlahnya bersembunyi di berbagai sudut. Ada yang berada di atap gedung seberang, ada yang berdiri di balik pilar lobi, ada pula yang menyatu dengan bayangan di dekat tangga darurat. Tatapan mereka terus mengawasi keadaan sekitar hotel tanpa berkedip, siap menghentikan siapa pun yang berniat membuat keributan. Ryan Hartono keluar dari mobil dengan tenang. Begitu kakinya menyentuh tanah, Kesadaran Ilahinya membentang diam-diam dan menutupi seluruh kawasan hotel.
Ryan Hartono hanya mengangguk kecil. Ia mengikuti Jenderal Vance masuk ke dalam sebuah Pagani yang sudah menunggu di tepi jalan. Dari awal sampai pintu mobil tertutup, Ryan sama sekali tidak menoleh ke arah Arielle Surya maupun pemuda yang berdiri di sebelahnya. Iring-iringan mobil mewah itu kemudian bergerak meninggalkan Bandara Internasional Metropolitan Alexandris. Lampu belakangnya memanjang seperti aliran merah di atas aspal basah, lalu perlahan lenyap di tikungan jalan. Baru setelah rombongan tersebut tidak terlihat lagi, Arielle tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah jalan kosong dengan mata yang masih membesar, seolah belum mampu menerima pemandangan barusan. “Bagaimana mungkin dia didukung sebanyak itu?” gumamnya tidak percaya. Di mata Arielle, Ryan selalu merupakan sosok iblis berdarah dingin. Lelaki itu bukan hanya menghancurkan Keluarga Surya, tetapi juga membunuh entah berapa banyak orang. Secara akal sehat, orang seperti itu seharusnya punya musuh di ma
Bandara Internasional Metropolitan Alexandris malam itu tampak lebih tegang daripada biasanya. Di luar pintu kedatangan, puluhan sosok beraura kuat berdiri berjajar. Mereka menatap ke arah terminal dengan wajah serius, seolah takut melewatkan perubahan sekecil apa pun dari dalam. Tidak seorang pun merokok, bercanda, mengobrol santai, atau menunduk memainkan ponsel. Barisan sebesar itu tentu saja menarik perhatian banyak orang yang lalu lalang. Terlebih lagi, di tepi jalan, iring-iringan mobil mewah terparkir memanjang seperti ular. Jumlahnya lebih dari seratus, dan masing-masing berkilau di bawah cahaya lampu bandara. Pemandangan itu membuat dada banyak penumpang ikut bergetar. “Siapa yang mau datang sampai harus disambut seperti ini?” seseorang berbisik dengan takjub. “Presiden Amerika datang pun rasanya belum tentu seheboh ini.” Di tengah tatapan heran orang-orang sekitar, Jenderal Vance yang berkumis tebal menoleh kepada pria di sampingnya. Nada suaranya berat dan tid
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m







