เข้าสู่ระบบSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Munis Jilbab, dan Kak Dany Danie atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini. Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Memikirkan semua itu, mata Ryan Hartono berkedip beberapa kali. Sorotnya makin dingin ketika ia menatap Pelindung Hitam dan Pelindung Putih yang tergeletak di lantai batu."Kalau kalian bicara, mungkin aku bisa memberi kalian kematian yang lebih cepat.""Ryan Hartono, kau memang kejam!"Pelindung Hitam yang tubuh bawahnya sudah terpotong justru tertawa dingin. Darah mengering di pinggangnya, tetapi kebencian di matanya belum padam."Kata orang, yang menang jadi raja, yang kalah jadi perampok." "Sekte Sihir Arwah kalah dengan jujur. Tetapi jangan harap kau bisa tahu siapa yang dulu datang mendekati Sekte Sihir Arwah..."Kalimatnya belum selesai.Jeritan serak yang penuh keputusasaan tiba-tiba meledak dari tenggorokannya.Crakk!Darah segar menyembur ke udara.Salah satu lengannya dicabut paksa oleh Arjan Decha yang berdiri di dekatnya. Lengan itu terlepas dari bahu bersama serat otot yang meregang panjang, lalu putus satu demi satu dengan bunyi mengerikan."Aaargh!"Seluruh wajah Pe
Ryan mengamati Elena dari samping tanpa segera berkata apa pun.Ia tahu, setelah Elena melahap Jiwa Ilahi Yamadipati, sebagian ingatan makhluk itu ikut berpindah ke dalam kesadarannya. Nama-nama seperti Langit Keabadian, Sekte Arwah Halimun, dan Ilmu Rembulan Jurang Suci bukan sesuatu yang bisa dikarang oleh orang Bumi biasa."Ryan..." Elena mendongak sambil menggigit bibir. Tatapannya masih dipenuhi sisa bingung, tetapi di balik itu sudah muncul pemahaman baru yang membuatnya gelisah. "Sekarang aku tahu semuanya." "Tadi ada kultivator arwah bernama Yamadipati yang mencoba merasuki tubuhku, lalu kau bertarung habis-habisan melawannya, kan?""Kurang lebih begitu." Ryan menghela napas pelan. "Tapi sekarang semuanya sudah beres."Melihat tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, Ryan hanya bisa mengaku. Menyangkal di depan orang yang telah menyimpan ingatan pelakunya sendiri hanya akan terdengar konyol.
Tes, tes.Di dalam sumur dalam yang sempit dan lembap, butir-butir air merembes dari dinding batu, lalu jatuh ke lantai dengan irama teratur. Suaranya mirip bandul jam tua yang terus berayun tanpa mengenal lelah.Tidak ada angin di kedalaman itu. Udara berbau tanah basah, lumut, dan logam tua. Cahaya obor yang lemah menempel di dinding, membuat bayangan di sekitar peti mati merah tampak bergerak pelan.Dalam tidurnya, Elena merasakan sesuatu menyentuh wajahnya.Hangat.Lembut.Seperti embusan napas yang menyapu pipinya dan menggelitik kulitnya.Alis lentiknya bergetar tipis. Setelah beberapa saat, kesadarannya perlahan kembali dari pingsan panjang. Begitu membuka mata, kepalanya terasa sangat berat. Rasa nyeri berdenyut samar di pelipisnya, seolah ia baru saja bangun setelah sakit parah berhari-hari.Sekujur tubuhnya lemas. Bahkan mengangkat jari saja terasa membutuhkan tenaga besar
Arjan Decha berdiri kaku di tempat. Ia paling memahami betapa mengerikannya Yamadipati. Sosok yang menyebut diri Dewa Sihir itu bukan ahli biasa, melainkan keberadaan dari alam lain yang mampu mengambil alih raga Ketua Sekte Sekte Sihir Arwah dan memakai teknik arwah yang aneh. Namun sosok seperti itu tetap tumbang di tangan Ryan Hartono. Hal itu saja sudah cukup menunjukkan sejauh apa kekuatan Tuan yang ia ikuti. 'Manusia atau dewa sebenarnya dia?' Di kejauhan, Chana menatap lama sosok Ryan yang masih berdiri di kehampaan. Wajah yang tadi sempat ia anggap biasa saja kini tampak dipenuhi kuasa yang tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk membantah, seperti dewa langit yang berdiri di atas segalanya. Setelah Ryan turun ke tanah, Wendy Hartono memandangi mayat hangus di pelataran dengan sisa ketakutan. Ia memberanikan diri bertanya, "Kak, dia sudah mati?" "Mati?" Ryan mendongak ke arah puncak gunung. Sorot matanya dingin. "Belum. Yang baru saja kubunuh hanya salah satu tub
"Raga fanamu yang tidak seberapa itu ternyata menyimpan rahasia. Begitu kau kutangkap, aku akan membedahnya sampai tuntas." Yamadipati memicingkan mata ke arah Ryan Hartono. .. Kilat bengis bergolak di dalam sorotnya, seolah ia sudah melihat tubuh Ryan berubah menjadi bahan percobaan di hadapannya. Detik berikutnya, ia tiba-tiba mengangkat tangan. "Jari Dewa Arwah!" Begitu pekikan itu keluar, hawa hitam yang meluap di sekeliling tubuh Yamadipati tersedot deras menuju ujung jarinya. Dalam sekejap, satu jarinya berubah hitam pekat sampai ke pangkal, seperti dipenuhi racun, dendam, dan arwah yang tak terhitung jumlahnya. Saat ujung jari itu bergetar tipis, udara di sekitarnya terkoyak. Ruang mengeluarkan dengung rendah yang membuat dada orang terasa sesak. Wusss! Seberkas cahaya hitam sebesar lengan orang dewasa menyembur dari ujung jari Yamadipati. Cahaya itu membelah langit malam, membawa daya penghancur yang membuat seluruh pelataran Balai Leluhur kembali berguncang. "Gol
Detik berikutnya, tubuh Sang Ketua Sekte mulai kejang hebat.Wajahnya berubah-ubah dengan cepat. Kadang penuh ketakutan, kadang bengis, kadang tampak seperti orang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu dari dalam dirinya sendiri."Yang Mulia Dewa Sihir, apa... apa yang Yang Mulia lakukan?" suaranya bergetar, tidak lagi seangkuh sebelumnya."Apa yang kulakukan?"Suara yang sangat dingin keluar dari tubuh Sang Ketua Sekte, tetapi jelas bukan suaranya sendiri. Nada itu tinggi, asing, dan membawa penghinaan yang membuat orang menggigil."Tentu saja mengambil alih ragamu. Kau sudah tidak berguna lagi.""Yang Mulia Dewa Sihir, jangan! Hamba selalu setia kepada Yang Mulia. Kenapa Yang Mulia memperlakukan hamba seperti ini?"Raungan Sang Ketua Sekte kembali terdengar. Kali ini, suaranya dipenuhi kepanikan yang tidak bisa ditutupi.Namun suara dingin itu hanya mencibir."Sampah tidak berguna. Mel
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y







