Angin malam berembus kencang di balkon lantai atas Akademi Aethelgard, membawa aroma pinus dari pegunungan utara yang dingin. Di sana, dua pria yang merupakan kutub berlawanan dari kekuasaan kekaisaran berdiri berdampingan dalam kesunyian yang tegang. Archduke Elian, dengan jubah biru mudanya yang melambangkan ketenangan dan kebijakan, dan Pangeran Alaric, yang kini tampak lebih bersahaja namun tetap menyimpan aura gelapnya yang terkendali.Gelas berisi anggur madu di tangan Elian berkilau tertimpa cahaya bulan. Ia menoleh sedikit, menatap profil samping Alaric yang tajam. "Dulu, aku berpikir kau adalah badai yang hanya akan mematahkan sayapnya, Alaric." suara Elian mengalun, rendah namun jelas di tengah desau angin.Alaric tidak langsung menjawab. Ia menggenggam pagar balkon batu hingga buku jarinya memutih, seolah sedang menahan diri agar tidak meledak. "Aku memang badai itu, Elian. Dan aku hampir melakukannya. Aku hampir menghancurkannya demi ego yang kusebut cinta, mungkin?""Te
Read more