Kabut di kaki Pegunungan Ethelwilde tidak hanya dingin, ia terasa tebal, basah, dan membawa sisa-sisa mana purba yang tajam seperti serpihan kaca. Sinar matahari pagi yang seharusnya menyapa, justru terperangkap di balik rimbunnya pohon-pohon raksasa yang dahan-dahannya meliuk seperti jemari raksasa yang mati. Di sini, di tempat yang dikenal sebagai Labirin Ethelwilde."Jangan menyentuh lumut merah itu, Nara! Ia akan menghisap manamu dalam hitungan detik!" Celestine memperingatkan, suaranya rendah namun penuh peringatan. Ia melangkah di barisan depan, jemarinya terus meraba frekuensi di udara, mencoba membaca denyut kehidupan yang semakin liar."Aku tahu, Celine. Pasirku sudah bergetar sejak kita memasuki batas wilayah ini. Seperti ada sesuatu yang lapar di bawah kaki kita." sahut Nara. Ia mengangkat tangannya, membiarkan butiran pasir Zandara berputar-putar di sekeliling pergelangan tangannya, memancarkan pendaran jingga yang berfungsi sebagai suar kecil di tengah kabut yang kian pe
Read more