Pada awalnya, saat aku mengetahui bahwa aku hamil, Arzo tidak menunjukkan kegembiraan apa pun. Ekspresinya selalu datar dan tenang. Sampai akhirnya dia sengaja pergi ke kuil untuk berlutut selama sehari penuh, lalu menyalin kitab suci selama tiga hari demi memohon sebuah jimat keselamatan.Aku terus menenangkan diri sendiri, mengira dia hanya tidak pandai mengekspresikan perasaannya, dan aku begitu tersentuh oleh apa yang telah dia lakukan. Baru sekarang aku tahu, semua itu ternyata palsu. Jimat keselamatan yang dia mohon bukan untukku, melainkan untuk Mona. Jimat keselamatannya palsu, begitu juga cintanya.Arzo mengupas apel dan menyuapkannya ke mulutku. Saat aku menghindar, dia tampak sedikit kebingungan. Beberapa saat kemudian, dia bertanya dengan nada menyelidik, "Sayang, tadi pagi kamu sempat angkat telepon di ponselku, ya?"Dia mengerutkan kening, menungguku menjawab dengan gelisah. Semakin aku diam, semakin dia merasa tidak tenang, lalu dia bertanya lagi, "Kamu dengar apa?"Aku
Read more