مشاركة

Bab 4

مؤلف: Desun
Arzo telah memberikan seluruh hatinya, perhatian istimewanya, bahkan harta warisan kepada Mona. Selama delapan tahun, apa yang tersisa untukku? Kebohongan, penipuan, dan kemunafikan.

Pintu rumah didorong terbuka. Arzo dan Mona masuk sambil berciuman tanpa ingin berpisah. Saat itu aku terpaku di tempat, bahkan kakiku tak mampu melangkah.

Alasan menyuruhku ke rumah sakit, katanya khawatir aku tidak enak badan, ternyata juga palsu. Semua itu hanya agar aku menyingkir dari rumah dan memberi mereka ruang untuk berselingkuh.

Diriku yang berdiri di sudut terasa seperti orang luar, sementara mereka tampak seperti sepasang suami istri yang telah lama dimabuk cinta.

Suara erangan Mona memenuhi seluruh rumah. Napasnya terengah, lehernya terangkat. "Kak Arzo, kalau aku bertemu denganmu lebih awal, apa kamu akan memilih menikah denganku?"

Arzo mengerahkan tenaganya dengan kasar dan membentak, "Jangan berkhayal hal yang nggak perlu. Kalau bukan karena Ludwika, aku bahkan nggak akan melirikmu."

"Toh kamu tetap tidur denganku. Kamu juga bilang tidur denganku di rumah saat Ludwika ada malah lebih menegangkan. Kamu ini benar-benar munafik."

Suara Mona semakin menggila. Aku menutup telingaku, ingin melarikan diri dan tidak mendengarnya. Namun, setiap kata Arzo malah seperti angin yang memaksa masuk ke telingaku. Seolah-olah jarum demi jarum menusuk jantungku, menyayat wajahku, dan merobek sisa harga diriku yang menyedihkan.

Dia berkata, "Walaupun aku memang masih mencintainya, delapan tahun itu juga sudah membuatku bosan. Bukankah wajar mencari sensasi sedikit?"

Jadi itulah alasan perselingkuhannya. Aku tersenyum pahit.

Rasa sakit di hatiku menjalar ke seluruh tubuh. Perutku tiba-tiba dilanda nyeri hebat hingga kakiku tak sanggup menopang tubuh. Aku terduduk di lantai. Suaranya cukup keras sampai mengejutkan Arzo.

Dia langsung panik. Bahkan tanpa sempat mengenakan pakaian, dia berlari ke arahku. Melihat wajahku yang pucat, dia menggendongku dan berlari keluar dengan cemas.

Di dalam mobil, dia menggenggam tanganku sambil menangis, tubuhnya bergetar hebat. Kekhawatiran dan kepanikannya bukanlah palsu. Namun, bekas ciuman yang menutupi tubuhnya juga nyata.

"Sayang, tunggu sampai anaknya lahir, nanti aku jelaskan semuanya, ya ...."

Setetes air mata mengalir dari sudut mataku. Aku tersenyum tipis lalu memalingkan wajah. Saat didorong masuk ke ruang operasi, Dokter Dio mendorong spuit dan berkata kepadaku, "Setelah disuntik, kamu akan mengalami pingsan palsu selama satu hari. Sudah siap?"

Wajahku pucat pasi. Aku mengangguk pelan. "Dokter Dio, nanti saat perlu menandatangani surat kondisi kritis, tolong ganti dengan surat perjanjian cerai."

"Baik."

Spuit perlahan didorong masuk ke tubuhku. Rasa lemas menyapu seluruh tubuh, aku perlahan menutup mata.

Di luar ruang operasi, Arzo mondar-mandir dengan gelisah. Belum pernah ada yang melihatnya sekacau itu. Dokter keluar membawa surat kondisi kritis dan berkata kepadanya, "Pak Arzo, istri Anda mengalami pendarahan hebat dan mungkin ... membutuhkan tanda tangan Anda."

Arzo mengamuk dan menendang meja perawat sambil berteriak, "Apa pun yang terjadi, aku harus menyelamatkan Ludwika. Selamatkan istriku, dengar nggak!"

Dengan tangan gemetar dia segera menandatangani, lalu menatap pintu ruang operasi dengan hati yang terbakar kecemasan saat dokter masuk kembali.

Sepuluh menit kemudian, Ludwika didorong keluar dengan seluruh tubuh tertutup kain putih. Dokter berkata dengan penuh penyesalan, "Pak Arzo, kami mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Dengan kedua tangan yang gemetar, Arzo membuka kain putih itu. Dia terpaku menatap wajah Ludwika yang pucat, lalu terhuyung beberapa langkah ke belakang dan ambruk duduk di lantai. Bibirnya bergetar sambil terus menggumam, "Aku nggak percaya. Aku nggak percaya. Aku nggak percaya ...."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 11

    Saat aku masih diliputi kebingungan, pengacara akhirnya angkat bicara. "Perjanjian ini sebenarnya sudah disusun oleh Pak Arzo sejak tiga bulan lalu. Isinya adalah pengalihan seluruh saham Grup Tasmian. Anda hanya perlu menandatangani."Tak bisa dipungkiri, perjanjian ini adalah bukti ketulusan Arzo sepenuhnya. Aku tidak ragu dan langsung menandatangani. Delapan tahun, ini memang utang yang harus dia bayar padaku.Dengan kehadiran pengacara, proses perceraian berjalan sangat cepat. Sepanjang proses itu, Arzo tidak mengucapkan sepatah kata pun.Waktu terus berlalu. Dia duduk di samping sambil diam-diam menatapku, seolah ingin menghafal setiap detail wajahku.Arzo terlihat semakin kurus. Rautnya tampak seperti orang yang lama kecanduan alkohol dan rokok, tatapannya kosong saat memandangku. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan.Setelah dokumen diselesaikan, pengacara membuat dua rangkap dan menyerahkannya kepadaku dan kepadanya. Arzo berdiri dan berkata singkat, "Jaga dirimu ba

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 10

    "Setelah itu, kita resmi bercerai."Melihat sikapnya yang tampak tulus tanpa kepura-puraan, aku akhirnya menyetujuinya.Di dalam pesawat, dia tetap mempertahankan sikap perhatiannya yang biasa kepadaku. Dosenku melihat semuanya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Aku dan dia dulu adalah pasangan kampus yang membuat banyak orang iri.Dosenku juga tahu tentang hubungan kami sejak masa kuliah. Dulu, Guru cukup menyukai Arzo. Namun sejak tahu aku keluar dari asosiasi demi dirinya, yang tersisa untuk Arzo hanyalah tatapan dingin.Saat Arzo terus menunjukkan perhatian berlebihan kepadaku, dosenku mendengus dingin. "Saat orang masih bersamamu, kamu nggak tahu cara memperlakukannya dengan baik. Baru sekarang tahu menyesal dan menghargai."Tangan Arzo yang hendak menyelimutiku terhenti. Dia menarik senyum kaku, lalu perlahan menarik kembali tangannya. "Maaf, aku sudah melampaui batas."Melihat sikapnya yang serba berhati-hati seperti itu justru membuat hatiku merasa puas. Bagaimanapun juga, orang

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 9

    "Kamu gila, Arzo. Kita sudah cerai. Tolong sadar diri dan tahu posisi kamu!"Ucapanku dan tindakanku jelas memancing emosinya. Dada Arzo naik turun hebat beberapa kali sebelum dia menatapku dengan wajah gelap dan berkata, "Ludwika, kemarilah. Dia itu sampah. Kenapa kamu percaya sama kata-katanya!"Begitu kata-kata itu keluar, Dio merangkul pinggangku dan menatap Arzo dengan senyum mengejek. "Arzo, kalimat itu rasanya nggak pantas keluar dari mulutmu. Apa pun yang pernah kulakukan, setidaknya aku nggak sampai membunuh anakku sendiri."Arzo menatapnya dengan kemarahan yang membara. Aku yakin, kalau aku tidak berdiri di depan mereka, dia pasti sudah kembali melayangkan pukulan. Nada bicaranya kemudian melunak saat dia menatapku dan membuka kedua tangannya."Kemarilah, Ludwika. Jangan berdiri di dekatnya. Apa pun yang dia lakukan akan kuurus sendiri. Itu nggak ada hubungannya denganmu."Aku tetap berdiri tenang di depan Dio. Dengan senyum dingin aku berkata, "Kamu belum dengar juga? Kamu s

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 8

    Arzo memang menepati janjinya, tidak pernah melepaskan tanganku. Hanya saja, setelah aku yang lebih dulu melepaskannya dan pergi meninggalkannya, dia malah mulai terus-menerus menggangguku tanpa henti.Aku tidak tahu bagaimana keadaan Grup Tasmian sekarang. Yang kutahu, Arzo seolah menetap di Selandia Baru. Pada waktu tertentu setiap hari, dia akan muncul di luar area pameran. Kadang dia bahkan masuk ke dalam dan berdiri tak jauh, menatapku yang sedang menjelaskan kaligrafi dan lukisan kepada pengunjung dengan tatapan kosong dan lama.Para adik tingkat dan junior mengenalnya, tetapi tak seorang pun berani membelanya. Semua orang tahu betapa mesranya kami dulu. Mereka juga paham sifatku, tahu bahwa aku bukan tipe orang yang mengambil keputusan dengan mudah. Sekali aku memutuskan sesuatu, aku tidak akan menyesalinya.Pameran yang berlangsung selama satu bulan akhirnya berakhir. Dosenku kembali menyalin beberapa karya kaligrafi dan memberikannya kepadaku. Mungkin karena usianya yang semak

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 7

    Sebelum membuat rencana ini, aku sudah memikirkan bagaimana reaksinya jika dia tahu. Dia pasti akan pergi tanpa ragu sedikit pun dan menikahi Mona dengan gembira.Bagaimanapun juga, dia sanggup membunuh anak istrinya sendiri dan menyerahkan seluruh harta warisan kepada anak Mona. Aku tidak menyangka dia malah mencariku ke mana-mana, bahkan datang sendiri ke hadapanku untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu.Ucapan dariku jelas menusuk Arzo. Dia menarik napas dalam-dalam dua kali, lalu mengulurkan tangan dan memelukku, seolah ingin meredam amarah dan kekesalannya sendiri.Seperti menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang, dia memelukku sangat erat, seakan ingin menyatukanku ke dalam tubuhnya. Dia bergumam pelan, menenangkanku sekaligus menenangkan dirinya sendiri."Maaf, tadi nadaku kurang baik. Aku hanya terlalu khawatir padamu. Yang penting kamu sudah kembali ... yang penting kamu kembali. Ayo kita pulang."Aku mendorongnya dengan kuat, wajahku tetap tampak datar. "Arzo, ap

  • Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu   Bab 6

    Setelah meluapkan kekesalannya, pandangan sang dosen justru kembali dengan penuh kerinduan ke arah kaligrafi dan lukisan yang tergantung di atas.Aku berkeliling melihat pameran. Para adik tingkat dan junior segera mengenaliku, mereka berteriak memanggil namaku dengan penuh semangat. Sang dosen mendengar mereka menyebut namaku, tetap mendengus dingin sambil mengelus janggutnya dan berkata, "Mana mungkin Ludwika si nggak berguna itu muncul di sini? Kalian jangan menyebut namanya lagi, bikin aku kesal saja!"Padahal jelas-jelas tatapannya sudah melirik ke arahku. Dia bahkan merapikan kerah bajunya dan duduk tegak dengan wajah kaku, menunggu aku mendekat.Aku membawa hadiah dan berjalan ke arahnya sambil tersenyum. "Guru."Sang dosen kembali mendengus. Para adik tingkat buru-buru berkata, "Kak, jangan lihat Guru seperti itu. Sebenarnya dia sangat berharap Kakak kembali. Setiap hari dia bilang kalau Kakak masih di asosiasi, pasti akan ada lebih banyak karya yang dipamerkan.""Guru, aku sud

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status