Short
Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu

Tak Pernah Terbesit, Cintanya Palsu

By:  DesunCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat mengetahui aku hamil, Arzo Tasmian mengeluarkan banyak uang untuk mengundang seorang dokter terkenal untuk meresepkan obat penguat kandungan untukku. Dirinya yang atheis bahkan berlutut lama di rumah ibadah, memohon agar aku bisa melahirkan dengan selamat. "Sayang, kamu sudah bekerja keras. Setelah anak ini lahir, aku pasti akan menebus semuanya dengan baik." Di hari yang sama, aku kebetulan membantu menjawab teleponnya. "Pak Arzo, sesuai perintah Anda, di dalam obat penguat kandungan Nyonya telah dicampurkan obat sterilisasi. Anak itu akan lahir sebagai bayi mati." "Anak Bu Mona sangat sehat dan pasti bisa lahir dengan lancar untuk menjadi pewaris Grup Tasmian. Nyonya tidak akan menyadari adanya masalah apa pun dan tidak akan merusak hubungan Anda dengan Nyonya. Bapak bisa tenang." Aku menunduk sambil memandang perutku yang membesar. Tak pernah terpikir olehku bahwa cintanya ternyata sepalsu ini. Oleh karena itulah, setelah menandatangani surat perjanjian cerai, aku memilih untuk pergi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Tanganku terlepas, ponsel itu jatuh ke lantai dan panggilan pun terputus. Aku menundukkan pandangan sembari menatap perutku yang membuncit, lalu perlahan mengulurkan tangan untuk mengelusnya. Mataku sudah penuh dengan air mata.

Pantas saja setiap kali aku menyuruh Arzo merasakan gerakan janin, tak sedikit pun kegembiraan terlihat di wajahnya. Ternyata sejak awal dia sudah tahu, anak ini memang ditakdirkan tidak akan pernah lahir.

Arzo keluar dari kamar mandi dengan senyum di wajahnya. "Sayang, bayinya anteng nggak? Apa dia ribut lagi? Biar aku yang menegurnya!"

Aku mengangkat wajah yang dibasahi oleh air mata menatapnya. Kalimat untuk mempertanyakan semuanya hanya tersimpan dalam hati. Namun, dia mendekat dengan wajah cemas dan buru-buru memelukku erat.

"Ada apa, Sayang? Kamu terlalu tegang ya? Aku akan selalu menemanimu, jangan takut."

Genggaman tangannya membuatku merinding. Kenapa dia bisa setega ini? Di satu sisi membunuh anak kami untuk mempertahankan hubungannya dengan wanita lain, tetapi tetap bisa mengucapkan kata-kata manis dengan alami.

Ujung lidahku terasa pahit. Dengan susah payah aku mengusap perutku, mencoba mengujinya.

"Arzo ... kenapa ... kenapa aku nggak merasakan gerakan bayinya?"

Arzo membungkuk dan menempelkan telinganya ke perutku. Aku menatapnya tanpa berkedip dan melihat dengan jelas kilasan ketidaksabaran di matanya. Namun saat menatapku, semuanya lenyap. Dengan suara lembut dia berkata, "Ada kok, bayinya cukup aktif. Kamu cuma terlalu cemas, Sayang. Aku selalu ada menemanimu."

Tepat ketika aku membuka mulut hendak menanyakan soal telepon tadi, asistennya mengetuk pintu.

"Pak Arzo, dokter ingin berbicara dengan Anda mengenai masalah operasi."

Arzo refleks melirik ke arahku, lalu berkata dengan suara lembut, "Aku ke sana sebentar, sebentar lagi kembali." Dia selalu takut aku mengkhawatirkan kondisi kesehatanku sendiri, jadi biasanya apa pun yang ingin disampaikan dokter, selalu dibahas di luar bangsal.

Asistennya menurunkan suara di depan pintu dan berkata kepadanya, "Dia terus minta bertemu dengan Bapak. Aku takut emosinya terlalu bergejolak dan memengaruhi anak di dalam kandungannya."

Hatiku tanpa sadar mencengkeram kuat. Dengan langkah tenang, aku mengikutinya keluar dan melihat dia masuk ke bangsal sebelah. Entah karena terlalu terburu-buru atau terlalu cemas, dia bahkan lupa menutup pintu. Pintu hanya terkatup setengah dan meninggalkan celah.

Orang yang terbaring di ranjang rumah sakit itu ternyata adalah putri dari pembantu di rumah kami.

Arzo menempelkan telinganya ke perutnya dengan wajah penuh senyum, lalu berkata dengan suara lembut, "Anaknya baik-baik saja, 'kan? Sudah mau jadi ibu tapi masih saja kekanak-kanakan. Lain kali nggak boleh lagi pura-pura sakit untuk membohongiku. Aku bisa khawatir, tahu nggak?"

Dia menyentuh dahi Mona dengan tenang dan penuh rasa sayang. Mona tersenyum manis, lalu menggenggam tangannya dan menciumnya, sambil berkata manja, "Aku cuma kangen kamu. Kamu terus temani wanita itu setiap hari, apa nggak bisa lebih banyak meluangkan waktu untukku?"

Arzo membungkuk dan meninggalkan ciuman demi ciuman di bibirnya, lalu menenangkan dengan suara hangat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status