Langkah kaki itu berhenti tidak jauh dari mereka.Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Tubuhnya tegap, auranya tidak kalah kuat dari Zhao Fenglin, namun tidak menekan. Tatapannya lurus, tenang, dan dalam. Tidak ada kemarahan yang terlihat, tapi juga tidak bisa dianggap biasa. “Jenderal Zhao Jianwu,” ucap Yuwen Shuang pelan, sedikit menundukkan kepala.Nada suaranya sopan.Zhao Jianwu mengangguk kecil sebagai balasan. Tatapannya sempat berhenti sejenak pada Yuwen Shuang, cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikannya, sebelum akhirnya beralih pada putranya.“Fenglin.”Satu panggilan singkat. Namun cukup untuk mengubah suasana.Zhao Fenglin menegakkan tubuhnya sedikit. “Ayah.”Nada suaranya datar seperti biasa. Namun sikapnya berubah. Lebih formal, dan kaku. Zhao Jianwu melangkah mendekat. Tidak terburu-buru. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, menjaga jarak yang cukup. Tatapannya kembali beralih pada Yuwen Shuang.“Putri, maaf mengganggu.”Ucapannya tenang. Tidak ka
Ler mais