Keheningan masih berlanjut. Situasi menegangkan ini, tidak tahu kapan akan berakhir. Seluruh aula masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Permainan yang sejak awal diarahkan pada satu pihak, kini berbalik tanpa peringatan. Dan tidak semua orang siap menghadapinya. Di meja keluarga kekaisaran, Yuwen Liao masih berdiri di tempatnya. Cangkir anggur di tangannya belum diturunkan. Namun jemarinya sedikit mengeras di sekelilingnya. Senyum di wajahnya perlahan kembali. Tipis, dan dipaksakan. Namun kali ini, tidak lagi setenang sebelumnya. Tatapannya tetap tertuju pada Yuwen Shuang. Lebih dalam, dan lebih tajam. Seolah sedang berusaha menembus sesuatu yang tidak dapat ia pahami sepenuhnya. Beberapa saat berlalu tanpa suara. Lalu, perlahan, Yuwen Liao mengangkat dagunya sedikit. Senyumnya kembali melembut. “Jika itu keinginan Kakak kedua,” ucapnya pelan, suaranya kembali manis seperti biasa, “tentu Adik tidak memiliki alasan untuk menolak.” Kalimat itu lolos begitu saja
Ler mais