“Belum ada sih, Nga,” Pram menggeleng. “Belum ketemu Bu Sisil sejak dateng. Memangnya kenapa, Nga?” mau tak mau tatapan Pram terarah ke paha putih tersebut. “Kalau Mas nggak sibuk, Bunga mau minta anter, ada kegiatan di luar kampus. Aku kan belum punya SIM,” balas Bunga, tetap dengan kekhasan suara lembutnya. Pram sejenak berpikir. “Mending kamu tanya langsung aja sama Bu Sisil. Aku sih siap aja, Nga, kan emang tugasku mengabdi di keluarga ini. Apapun tugasnya nggak masalah,” ujar Pram menyarankan. “Gitu ya, Mas,” Bunga mengangguk pelan. “Ya udah aku coba tanya Ibu dulu deh. Moga-moga aja beliau nggak ngasih tugas buat Mas Pram,” Bunga mengangkat tubuhnya, namun— Bukk! “Aduhhh!“ Ia justru terjengkang ke belakang, terpeleset lantai yang masih agah licin karena sisa makanan Pram. Pram terkesiap. Posisi Bunga setengah telentang, dengan kaki refleks terbuka lebar. Roknya tersingkap cukup tinggi. Kain merah muda terlihat jelas dengan bagian tengahnya yang menggembung tembam. Pram s
Last Updated : 2026-01-30 Read more