"Aduh, jangan ngajak yang aneh-aneh dulu ya, Bu Sisil. Masih pagi banget ini, nanti kalau ada anak-anak yang lihat atau turun ke dapur gimana?" bisik Pram sambil sedikit mundur, meskipun matanya sulit untuk tidak melirik belahan daster sutra Sisil.Sisil kembali tergelak pelan, suara tawanya terdengar renyah namun penuh nada provokasi yang kental. Ia menutup mulutnya dengan jemari lentik yang kukunya dicat merah menyala. "Kamu ini pikirannya langsung ke sana aja deh. Mas Pram salah sangka, tahu. Aku cuma mau ngomong penting sedikit sama kamu, Massss..." ucapnya dengan penekanan manja pada kata terakhir, suaranya sedikit mendesah yang membuat bulu kuduk Pram meremang.Pram berdehem, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai tak beraturan. "Mau ngomong soal apa memangnya, Bu? Apa itu soal Perusahaan Bu Sisil dan Pak Mugi?"Sisil cepat menggeleng. “Bukan, Masss. Ngapain juga aku ngajak bahas hal berat kayak gitu. Yang mau aku omongin di luar itu, Mas Pram,” ujar Sisil meluruskan.
Last Updated : 2026-02-12 Read more