Namun Pram tidak memedulikan rengekan itu. Dengan kekuatan lengannya yang kekar, ia memaksa Tari untuk telentang sempurna di atas kasur yang masih berantakan. Menggunakan kain seprai yang sudah lepas dari ujung kasur serta selimut yang ada di sana, Pram mulai beraksi. Ia menarik tangan kanan Tari ke arah sudut atas ranjang kayu, lalu mengikat pergelangan tangannya dengan simpul yang kuat namun tidak menyakiti."Pah, mau diapain ini?! Eh, Mas Pram, jangan diikat dong! Ampun, Mas... maafin Tari ya, Pah. Aku janji nggak akan gigit dada kamu lagi, beneran deh! Lepasin ya, Pah," raung Tari mulai panik saat merasakan kaki kirinya juga ditarik dan diikat ke kaki ranjang.Pram tetap diam seribu bahasa, ia pura-pura tidak mendengar semua permohonan istri bohongannya itu. Wajahnya tetap datar, namun matanya menatap lapar ke arah sepasang semangka Tari yang kini membusung pasrah karena kedua tangan Tari yang terangkat ke atas. Setelah Tari terikat sempurna dalam posisi paha terbentang, Pram
Read more