Sarah menjawab tanpa ragu sedikit pun, suaranya terdengar begitu yakin. "Mau di hutan, mau di rawa, mau di septic tank sekalipun, asal ada kamu di sampingku, aku mau, Mas. Aku bakal betah-betahin!"Tari menghela napas pasrah, ia tahu ia tidak bisa memonopoli Pram sendirian lagi. "Iya, Sar. Habis ini aku kirim alamatnya lewat. Tapi kamu harus hati-hati di jalan ya, soalnya aksesnya agak susah.""Oke! Aku tunggu alamatnya sekarang juga! Aku mau langsung beres-beres baju!" Sarah langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan semangat yang meledak-ledak.Tari meletakkan ponselnya kembali ke bantal, lalu ia menatap Pram dengan tatapan yang sedikit nanar. "Gimana ini, Masss? Rencana kita buat tenang-tenangan berdua malah jadi rame begini nanti kalau ada Sarah. Aku kan masih pengen manja-manjaan sama kamu tanpa ada gangguan."Pram menarik Tari kembali ke dalam pelukannya, mengelus rambutnya dengan lembut untuk menenangkan kecemburuan kecil di hati wanita itu. Ia tahu persis bagaimana rasan
Ler mais