Pram kembali ke kamar dengan baskom berisi air dingin dan sebuah handuk kecil. “Mama, pakai aja dasternya kalau lagi sakit gini. Jangan polosan, malah kedinginan nanti,” ucap Pram.Tanpa diminta, Pram segera membantu Taru mengenakan daster ripis dan longgarnya.Ia kemudian memeras kain hingga lembap, lalu dengan gerakan sangat lembut, ia menempelkannya di dahi Tari yang terasa panas. Tari nampak memejamkan mata, wajahnya yang tadi bersemu merah karena gairah kini nampak berubah pucat pasi. "Gimana rasanya, Mah? Masih pusing banget nggak kepalanya?" tanya Pram sambil duduk di tepi ranjang, tangannya yang kasar kini dengan penuh kasih mengusap pipi Tari yang panas.Tari sedikit membuka matanya, menatap Pram dengan pandangan yang sayu dan tidak fokus. Bibirnya nampak bergetar kecil saat ia mencoba menjawab. "Lumayan enak, Pah, kalau dikompres gitu. Rasanya adem sedikit, tapi badanku masih kerasa kayak dipukulin orang sekampung. Sendi-sendiku linu semua," jawab Tari dengan suara yang
Ler mais