"Tari segera paham maksud Pram. Oh, yang itu. Hehe, maap lupa, bos," sahut Tari dengan cengiran lebar, matanya mengerling manja ke arah pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.Tari pun segera melucuti pakaiannya sendiri satu per satu, kembali mengikuti setingan gubuk yang sudah disepakati bersama Pram sejak awal mula mereka tinggal di sana. Namun, pasca kemarahan Pram yang meledak tadi pagi, Tari nampak membuka pakaiannya dengan sedikit canggung. Gerakannya tidak seberani biasanya, ada semburat merah di pipinya yang bukan hanya karena gairah, tapi juga rasa malu karena sebelumnya sudah membuat pria idamannya itu marah besar.Pram yang memperhatikan setiap detik gerakan Tari lantas menaikkan sebelah alisnya. "Kok malu-malu gitu bukanya, Tar? Tumben banget kamu jadi kalem begini," goda Pram sambil melipat tangannya di depan dada."Habisnya, aku doang yang buka-bukaan dari tadi, kamu enggak! Nggak adil dong!" jawab Tari sambil mengerucutkan bibirnya, menatap Pram yang masih mengena
Mehr lesen