Pram terkekeh canggung, berusaha menjaga raut wajahnya tetap wajar meski jantungnya berdegup kencang karena hampir saja ketahuan melakukan hal seronok dengan putri sulung sang nyonya majikan. "Itu... ingus saya, Bu. Tadi pas di luar saya sempat bersin-bersin hebat, mungkin alergi debu rumah tua ini," kilah Pram sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Seketika Sisil menarik tangannya dengan ekspresi jijik yang sangat kentara, meskipun matanya masih memancarkan binar jenaka. "Ish, joroknya kamu ini, Mas! Ingus kok dielap ke celana sendiri. Ganti sana, Mas! Bau tahu, nanti kuman-kumannya malah nempel ke aku," omel Sisil dengan nada manja sembari mengibaskan tangannya, mengusir Pram dari sisi ranjang.Pram mengangguk cepat, merasa lega karena alasan konyolnya diterima mentah-mentah. Ia segera berlari menuju mobil Mini Cooper-nya yang terparkir di halaman untuk mengambil tas berisi persediaan pakaian bersih. Tak butuh waktu lama, ia sudah berada di kamar mandi yang terletak tepat
Magbasa pa