Langit Depok pagi ini tampak abu-abu, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati Diana. Hari ini adalah hari penentuan. Ujian SIMAK UI—gerbang utama yang harus ia lewati untuk bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan—sudah di depan mata. Di meja makan, Diana hanya mengaduk-aduk bubur ayamnya tanpa selera. Wajahnya pucat, jemarinya terasa dingin seperti es batu.Di samping piringnya, tergeletak kartu peserta ujian yang sudah ia laminating, dua buah pensil 2B yang sudah diraut runcing, penghapus karet, dan peraut pensil cadangan. "Mama, kenapa buburnya tidak dimakan? Nanti perut Mama bunyi kruyuk-kruyuk pas ujian, lho," celetuk Caroline yang sedang asyik melahap roti bakarnya dengan pipi menggembung. Diana tersenyum tipis, sangat tipis. "Mama kenyang, Sayang. Perut Mama rasanya mulas." "Mulas karena gugup atau karena buburnya tidak enak?" Suara bariton itu membuat Diana menoleh. Aksara berjalan mendekat, ia sudah rapi dengan kemeja navy lengan panjang yang digulu
Last Updated : 2026-02-10 Read more