Pagi di Petamburan berjalan lambat, seolah memberi jeda bagi Citra Melati untuk bernapas setelah maraton emosi bersama Raka kemarin. Tidak ada dering telepon, tidak ada notifikasi saham, hanya suara sutil beradu dengan wajan di dapur sempit. Citra duduk di lantai, melipat tumpukan baju yang baru diangkat dari jemuran. Di sampingnya, Ibu Ayu sedang menyisir rambut yang mulai memutih, senyum jahil tersungging di bibirnya. "Jadi, nanti malam giliran siapa, Nduk? Jadwalmu kok kayak dokter spesialis, padat merayap." Citra mendengus, melempar kaos oblong ke tumpukan. "Giliran Pak Damar, Bu. Si tukang pukul." Mata Ibu Ayu berbinar. "Oalah, yang badannya tegap itu? Yang kalau jalan tanahnya ikut getar? Gagah ya, Nduk. Kayak Gatotkaca." "Ish, Ibu jangan genit. Dia itu serem, Bu. Isinya curigaan mulu." "Lho, curiga itu tandanya sayang. Tandanya takut kehilangan. Daripa
Ler mais