Jarak itu kini tinggal selembar kertas tipis.Di luar, guntur menggelegar panjang, menggetarkan dinding kaca "Posko Cinta" yang basah oleh hujan. Namun di sudut sempit yang dibatasi sekat rotan itu, dunia Citra Melati menyusut hingga hanya tersisa sepasang mata abu-abu Elang Soerya.Napas Elang terasa hangat, berbau mint dan sisa aroma wine samar yang entah bagaimana selalu melekat padanya. Pria itu tidak langsung menyerang. Dia memberikan jeda. Sebuah celah waktu yang sangat krusial saat logika Citra seharusnya mengambil alih kendali.Lari, Citra, teriak otak kirinya. Harga diri. Logika pasar.Seharusnya, Citra mendorong dada bidang itu. Seharusnya, dia menampar pipi mulus Elang dengan tagihan. Seharusnya, dia melompat bangun dari kasur busa hijau norak itu dan kabur ke rumah ibunya.Tapi tubuhnya membatu.Bukan karena takut. Justru sebaliknya. Ada rasa penasaran yang menjalar dari ulu hati, merambat naik ke tenggorokan, dan mematikan seluruh sistem pertahanan dirinya.Tangan Elang y
Ler mais