Citra Melati menarik kerah tinggi sweater rajutnya hingga nyaris menutupi dagu. Di luar, matahari Jakarta sedang semangat-semangatnya memanggang aspal, tapi di dalam Penthouse Arcadia, Citra justru merasa seperti sedang bersiap menghadapi badai salju. Keringat dingin merembes di balik kain poliester murah itu. Lehernya terasa panas, berdenyut, seolah tanda merah keunguan yang dicetak Elang semalam memiliki nyawanya sendiri. Satu tanda, sepuluh miliar denda, dan harga diri yang tergadai. Kalkulator di kepalanya mendadak macet total. Ia melangkah ke dapur, mencoba menyibukkan diri dengan memotong bawang bombai. Aroma tajam bawang biasanya ampuh membunuh perasaan-perasaan sampah yang tidak masuk dalam neraca keuangan. Namun, suara langkah kaki yang berat dan berirama militer membuat pisau di tangannya terhenti. Damar Langit berdiri di sana. Pria itu tidak memakai baju tempur, hanya kaos taktikal hitam y
อ่านเพิ่มเติม