Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru. Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan memori. Di bawah pendar lampu bohlam lima watt yang menguning, Citra duduk bersila di atas kasur busanya yang menipis. Tangannya yang gemetar merogoh kolong bantal, menarik keluar sebuah buku tulis bersampul batik pudar dan sebatang pulpen promosi yang tintanya sering macet. Ini adalah jangkarnya. Buku kas. Selama bertahun-tahun, buku inilah yang menyelamatkan kewarasannya. Setiap kali dunia terasa runtuh, Citra akan mengonversinya menjadi angka. Utang, cicilan, harga beras, biaya rumah sakit Ibu—semuanya bisa dihitung. Semuanya punya solusi matematis. Jika ada masalah, buatlah tabe
Ler mais