Share

bab 15

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-02-25 21:57:27

​Mungkin bagi orang lain Minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, tapi beda untukku. Minggu adalah hari yang menyebalkan. Karena apa? Karena seharian aku harus berduaan sama Raka.

​Memang aku tinggal sudah lama, tapi rasa canggung tetap saja ada. Seperti hari ini, sesudah makan siang kita duduk di sofa tanpa percakapan sama sekali.

​Di sini tidak ada hiburan. Raka sih, enak main ponsel dari tadi, sedangkan aku cuma mengetuk-ngetuk paha kurang kerjaan.

​"Raka, boleh enggak aku keluar sebe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manipulasi Hati CEO   bab 27

    Pintu lift berdenting, terbuka di lantai teratas yang sunyi. Satpam bertubuh kekar itu menggiring si pria berantakan masuk ke ruangan Raka. Aku mengekor di belakang, berjalan dengan dagu terangkat dan wajah setenang telaga, padahal di dalam hati aku sedang sibuk merangkai maki-maki untuk Vanya yang tadi berisik sekali di lobi. Dasar perempuan stabilo, kerjanya cuma bikin polusi suara dan polusi mata. Raka membanting pintu ruangannya. Dia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan berdiri di tengah ruangan sambil berkacak pinggang. "Lepaskan dia, Pak Agus. Biar saya yang urus. Nadia, kamu kunci pintunya," perintah Raka. Suaranya rendah, tipe suara yang keluar kalau dia sedang menahan ledakan amarah. Aku mengunci pintu, lalu bersandar di sana sambil melipat tangan. Mataku tidak lepas dari pria asing itu. Dekat begini, baunya makin luar biasa. Bau rokok murahan bercampur keringat basi. Jaketnya yang dekil punya noda oli di mana-mana. "Raka... akhirnya kita ketemu lagi," pria itu t

  • Manipulasi Hati CEO   bab 26

    Pukul delapan pagi. Lobi K Inc sudah sewangi aromaterapi sandalwood yang harganya bisa buat bayar kontrakan setahun. Aku berdiri di balik meja marmer hitam ini, memakai seragam blazer slim-fit yang memeluk tubuhku dengan sempurna. Rambutku dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut yang sengaja diatur agar terlihat manis tanpa usaha. Seorang investor paruh baya masuk dengan langkah gontai. Perut buncitnya hampir membuat kancing kemejanya menyerah. "Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu? Senang sekali melihat Bapak kembali berkunjung," sapaku dengan suara yang kubuat selembut sutra. Senyumku mengembang sempurna—tipe senyum yang bikin orang merasa jadi orang paling penting di dunia. Gusti, itu dasi apa kain serbet warteg? Norak banget warnanya. Dan bau mulutnya... tolong, apa dia sarapan jengkol mentah tadi pagi? Aku ingin sekali muntah di tempat, tapi otot wajahku sudah terlatih untuk tetap statis dalam mode malaikat. "Ah, Mbak Nadia. Masih ramah seperti biasa. Pak Raka

  • Manipulasi Hati CEO   bab 25

    Suasana mewah pesta tadi mendadak menguap begitu pintu unit studio Raka tertutup rapat. Bunyi klik kunci otomatis itu seolah menjadi lonceng yang mengembalikan kami ke realitas. Apartemen ini luas, minimalis, dan sangat terbuka. Dari pintu masuk, kamu bisa melihat segalanya: dapur bersih, meja kerja Raka, tempat tidur king size di ujung ruangan, dan sofa abu-abu panjang yang sudah menjadi "wilayah kekuasaanku" selama sebulan terakhir. Aku menendang sepatu hak tinggiku hingga terpelanting ke sudut ruangan. "Sialan, kakiku rasanya mau lepas!" umpatku sambil tertatih menuju sofa. Raka melepaskan jam tangan mahalnya, meletakkannya di atas meja konter dapur dengan suara denting halus. "Itu harga yang harus dibayar untuk tampil cantik, Nadia. Jangan mengeluh kalau tadi kamu sendiri yang minta sepatu paling mahal." "Aku minta karena aku stres! Bukan karena aku mau jadi atlet lari pake heels!" aku merosot di atas sofa, memijat pergelangan kakiku yang memerah. Raka berjalan mendekat. Dia

  • Manipulasi Hati CEO   bab 24

    Sinar matahari pagi ini masuk lewat celah gorden dengan cara yang sangat tidak sopan. Aku mengerang, membenamkan wajah ke bantal. Tapi aroma mentega yang terpanggang mulai menggelitik saraf penciumanku. Sial. Perutku memang tidak pernah bisa diajak kompromi kalau soal urusan makanan, apalagi kalau itu bahan-bahan mahal yang ada di kulkas Raka. Aku menyeret langkah ke dapur dengan nyawa yang baru terkumpul separuh. Di sana, Raka sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Dia sedang duduk manis membaca laporan di iPad-nya, menunggu koki pribadinya ini beraksi. "Bangun juga akhirnya. Aku pikir kamu mau demonstrasi tidur seharian," ucapnya tanpa menoleh. "Berisik. Pagi-pagi mulutnya udah kayak knalpot bocor," balasku ketus. Aku langsung membuka kulkas, mengambil telur dan sosis premium. "Mana kopiku? Katanya bos, masa nggak bisa nyeduh kopi buat stafnya yang paling cantik ini?" Raka meletakkan iPad-nya, menatapku dengan tatapan datar yang menyebalkan. "Tugas resepsionis

  • Manipulasi Hati CEO   bab 23

    Suasana makan malam di apartemen malam itu terasa sangat aneh. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring. Raka benar-benar menghabiskan mi instan buatanku tanpa protes sama sekali. Padahal biasanya, telurnya kurang setengah matang saja dia sudah ceramah soal tekstur protein selama sepuluh menit. ​Aku memperhatikannya dari balik gelas air putihku. Dia makan seperti biasanya. Aku tahu dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja di depanku. Tipikal laki-laki sombong yang merasa harus selalu jadi tembok kokoh. Padahal di mataku, temboknya itu sudah retak seribu. ​"Kenapa lihat-lihat? Minumnya mau lewat hidung?" tanya Raka tiba-tiba tanpa menatapku. ​Aku tersentak, hampir tersedak air yang baru mau kutelan. "Siapa yang lihatin kamu? Ge-er banget. Aku cuma lagi mikir, mi instan merek ini ternyata kurang asin. Tapi kamu makannya lahap banget, kayak orang nggak makan tiga hari." ​Raka meletakkan garpunya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatapku lurus. "Nadia,

  • Manipulasi Hati CEO   bab 22

    ​Langkah kaki Raka yang lebar-lebar itu hampir membuat beberapa karyawan yang berpapasan dengannya terjungkal. Wajahnya yang biasanya poker face—datar tanpa ekspresi kayak tembok—kini tampak tegang banget. Alisnya bertaut, dan ada aura gelap yang terpancar dari setiap gerakannya. Dia benar-benar lagi enggak ingin diganggu, bahkan oleh lalat sekalipun. ​Aku yang baru saja mau duduk di meja resepsionis setelah makan siang bareng Reisa, cuma bisa melongo melihat bos besar itu melesat keluar kantor seolah-olah gedung ini mau meledak. ​"Nad, Pak Raka kenapa lagi? Kok mukanya kayak orang dikejar penagih utang?" bisik Lita sambil menyikut lenganku. ​"Mana aku tahu. Mungkin dia lupa matiin keran air di apartemen," sahutku asal. Tapi jujur, insting kepo-ku meronta-ronta. Raka itu paling anti ninggalin kantor di jam sibuk, kecuali ada urusan bisnis miliaran. Tapi tadi itu? Dia bahkan gak bawa tas kerja, cuma kunci mobil yang dicengkeram kuat sampai buku jarinya memutih. ​"Rei, aku izin bali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status