Matahari sudah tinggi, hari sudah menjelang siang. Aline membuka matanya perlahan, tangannya ia gerakkan. Terduduk sejenak, napasnya terasa berat. Kepalanya ia pegang, terasa berdenyut. Sebuah kain panjang ia ambil untuk menutup dirinya. Cukup sudah dia menangis, menyalahkan diri sendiri semalaman. Sekarang dia ingin keluar, melihat situasi, dan mulai mencari cara memperbaiki. Meski rasanya sia-sia, tidak apa-apa, tidak semuanya bisa sesuai rencananya. Aline melihat sepatu itu, sepatu yang sama yang Shin pakaikan untuk dirinya kemarin. Hening, pikiran Aline kosong untuk sesaat. Ia segera memakai sepatunya, pintu ia buka perlahan. Sudah ada Shin yang berdiri di samping pintu, semalaman menjaganya. Aline hanya melirik sekilas, sebelum dia kembali menatap sekitar. Shin benar, meski semuanya sudah hancur, Aline harus tetap berdiri. Jika dia tidak memiliki harapan, mungkin dia adalah bentuk harapan itu sendiri. Setidaknya, Aline ingin berusaha sampai akhir, tidak akan menyerah, sega
Read more