Compartir

Bab 6

Autor: Cat
Malam hari, Jusifan kembali ke apartemen dengan kepala masih diperban.

"Oria? Kok kamu sudah pulang? Nggak istirahat lebih lama di rumah sakit?" Nadanya biasa saja, seolah ucapan siang tadi tak pernah terjadi.

Menahan sakit yang bagaikan merobek jantung, juga menahan rasa mualnya, Oria lalu berkata pelan, "Semalaman menjaga kamu, capek sekali, jadi pulang buat istirahat."

Jusifan mendekat, mencoba memeluknya, nadanya seperti minta dipuji dengan nada manja. "Lihat aku sampai terluka begini demi kamu, jangan marah lagi ya, oke?"

Sambil bicara, tangannya kembali mulai nakal, ingin menciumnya.

Oria kembali mendorongnya keras!

Wajah Jusifan akhirnya menjadi suram. "Oria, sudah berkali-kali aku mencoba membujukmu, kamu masih belum puas juga? Bukankah aku sudah berhasil menenangkanmu?"

"Kalau kamu bersamaku, yang ada di kepalamu cuma hal semacam ini?" Suara Oria bergetar menahan tangis dan putus asa.

"Tentu tidak!" Jusifan menjawab cepat, aktingnya sempurna. "Yang aku suka itu kamu sebagai pribadi!"

Oria menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa, sampai air matanya berlinang.

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin dan pilu.

Jusifan jadi gelisah sekaligus kesal ditatap seperti itu, akhirnya mendengus dingin, mengambil jaket lalu membanting pintu pergi.

Mengetahui dia tak akan pulang malam ini, Oria akhirnya bisa menarik napas lega.

Keesokan harinya dia pergi ke kampus, ketua komunitas menghampirinya. "Oria, akhir pekan ada pertemuan komunitas, makan barbeku, kamu harus datang, ya!"

Oria ingin menolak, "Ketua, aku ...."

"Jangan menolak dong!" Ketua menariknya, merendahkan suara. "Itu ... sekalian ajak pacarmu Zerian juga, ya? Perusahaannya besar, banyak kakak senior sebentar lagi magang, semuanya pengin dekat dengannya ... tapi kami biasanya nggak bisa mendekatinya, cuma bisa andalkan kamu ...."

Oria tahu kalau dia mengirim pesan ke Zerian kemungkinan besar tidak akan dibalas. Namun, mengingat orang-orang komunitas yang memang dulu cukup baik padanya, Oria tak ada pilihan, dia tetap memberanikan diri mengirim pesan.

Tak disangka, saat makan bersama di akhir pekan, Zerian benar-benar datang.

Hanya saja ... di sampingnya juga ada Chelsea yang tersenyum manis.

Melihat Oria, Zerian cuma melirik sekilas, nadanya datar tanpa emosi. "Waktu kamu kirim pesan, aku kebetulan lagi sama Chelsea, jadi sekalian datang bareng."

Hati Oria seperti tertusuk jarum, dia mengangguk pelan tanpa bicara.

Sepanjang acara barbeku, perhatian Zerian sepenuhnya tertuju pada Chelsea.

Daging yang sudah matang segera dijepitkan pemuda itu ke piringnya. Bagian berlemak disingkirkan dengan teliti, minuman dipasangi sedotan dulu baru diberikan, saus yang menempel di sudut bibir Chelsea akan dilap si pria sendiri dengan tisu ... perhatian sedetail itu, belum pernah sekalipun dirasakan Oria.

Tanpa sadar Oria teringat dua tahun terakhir.

Karena Zerian adalah tuan muda yang dimanjakan sejak kecil, maka Oria selalu berhati-hati menjaga suasana hati si pria, mengingat semua kesukaannya, menyesuaikan diri dengan semua kebiasaannya.

Dia bahkan mengira Zerian sejak lahir memang begitu sifatnya, dingin dan tak peduli.

Baru hari ini dirinya melihat dengan mata kepala sendiri: bukannya pria itu tidak bisa memperhatikan orang, bukannya dia tidak bisa lembut, hanya saja orang yang membuatnya rela menurunkan gengsi, sejak awal bukanlah diri Oria.

Dia bahkan melihat Chelsea dengan alami menyendok lauk yang tidak dia suka ke piring Zerian, dan pria itu hanya sedikit mengernyit, lalu benar-benar menunduk dan memakannya.

Oria ingat, Zerian punya kebersihan ekstrem, tidak pernah mau makan sesuatu yang sudah disentuh orang lain.

Pernah suatu kali dia tak sengaja menyendokkan pria itu makanan dengan memakai sendoknya sendiri, saat itu juga ekspresi Zerian menjadi dingin, dan sepiring makanan itu tidak disentuh lagi sama sekali.

Ternyata semua prinsip dan kebiasaan, ketika di depan orang yang benar-benar pria itu sukai, semuanya bisa dilanggar.

Di tengah acara, mereka bermain truth or dare.

Yang kalah pertama adalah Chelsea, hukumannya minum tiga gelas minuman keras.

Begitu Chelsea menunjukkan ekspresi ragu, Zerian segera mengambil gelasnya, nadanya tegas tak bisa dibantah, "Dia nggak bisa minum. Aku gantikan."

Setelah itu, tanpa berubah ekspresi, dia menenggak tiga gelas sekaligus.

Kemudian Oria juga kalah, hukumannya makan satu tusuk daging yang dilumuri saus super pedas.

Pedasnya sampai membuat air matanya keluar dan dia batuk tak henti. Tanpa sadar dia menoleh ke Zerian. Namun pemuda ini sedang menunduk berbicara dengan Chelsea, bahkan tak meliriknya sedikit pun, seolah sama sekali tak melihat keterpurukannya.

Hati Oria pun benar-benar mati rasa di tengah pengabaian itu.

Setelahnya, semua orang mengelilingi Zerian untuk bertanya soal magang, tinggal Oria dan Chelsea duduk berhadapan.

Chelsea menatap Oria, wajahnya penuh tantangan dan kemenangan tanpa ditutup-tutupi. "Oria, kamu ini 'kan pacar Kak Zerian? Tapi sepanjang acara ini, dia selalu di sisiku, dari awal sampai akhir bahkan nggak melirik kamu satu kali pun."

Oria membungkam sambil meminum air.

"Aku nggak tahu kenapa Kak Zerian dulu mau sama kamu." Nada Chelsea terdengar tajam. "Tapi kamu sebagai pacar memang gagal. Kalau aku jadi kamu, dari dulu sudah tahu diri dan pergi sendiri. Lihat dirimu, foto-foto pribadi tersebar ke mana-mana, latar belakang keluarga juga ... di kalangan kami sama sekali nggak sebanding. Kamu pikir cuma karena orang panggil kamu dewi polos, kamu benar-benar jadi dewi? Kamu punya apa sampai pantas sama dia?"

Oria tetap diam, seolah tidak mendengar.

Chelsea seperti meninju kapas, hendak bicara lagi, tetapi pelayan datang mengganti arang panggangan di meja mereka. Entah karena tangannya terpeleset, nampan berisi arang merah menyala itu tiba-tiba miring, dan bara panas segera terciprat ke arah Chelsea dan Oria!

"Ah!" Chelsea menjerit ketakutan.

Dalam sekejap, Zerian menerjang maju, tanpa ragu memeluk Chelsea erat-erat ke dalam pelukannya, menggunakan punggungnya sendiri untuk menahan percikan bara panas itu!
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 23

    Zerian dan Jusifan berlutut di tanah yang dingin dan basah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak akan pernah lagi terbuka untuk mereka, seolah seluruh jiwa mereka telah tercabut.Sejak malam itu, Zerian dan Jusifan seperti kehilangan tulang punggung, benar-benar runtuh.Zerian kembali ke Grup Canadi.Dia menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, dingin sampai tak tersentuh perasaan manusia.Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tinggal di perusahaan, mengisi setiap detik dengan urusan dan rapat tanpa henti, mencoba membius hati yang sudah lama tandus dan mati rasa.Dia berubah menjadi mesin kerja yang sempurna, tindakannya secepat kilat, keputusannya keras tanpa ampun, memperluas wilayah bisnis Keluarga Canadi menjadi makin besar, menumpuk kekayaan makin banyak.Namun di sisinya, tak ada lagi siapa pun. Dia menolak semua perjodohan dan perkenalan, bersikap sedingin es pada setiap wanita yang mencoba mendekat.Dunianya hanya tersisa angka dingin, dokumen, dan permain

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 22

    Zerian dan Jusifan mengerahkan semua cara yang bisa mereka pikirkan.Tekanan kekuasaan, godaan materi, permohonan yang merendah, keterikatan yang gila, bahkan sandiwara menyakiti diri sendiri ....Namun semua itu, di hadapan benteng yang Oria bangun dari sikap dingin dan ketidakpedulian, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan kekacauan dan keputusasaan yang lebih dalam.Akhirnya mereka pun kehabisan tenaga terakhir mereka, lalu menyadari satu fakta yang tak mau mereka akui ....Mereka benar-benar, untuk selamanya, kehilangan dia.Bukan karena dia kejam, melainkan karena merekalah yang dengan tangan mereka sendiri menghancurkan perasaan samar yang mungkin pernah ada itu, bersama harga diri dan hidupnya di masa lalu.Pada suatu senja yang diguyur gerimis, Zerian memarkir mobilnya di sudut jalan seberang apartemen Oria.Dia tidak turun, hanya menatap melalui kaca mobil yang buram oleh hujan, memandangi jendela yang menyala dengan cahaya hangat itu.Dia menelepon nomor yang sudah lama m

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 21

    Sementara itu, Jusifan justru memilih cara lain yang jauh lebih menyesakkan.Dia tak lagi mengirim hadiah-hadiah mencolok, melainkan mulai memainkan kartu "cinta mendalam".Setiap hari dia muncul tepat waktu di bawah gedung kantor dan apartemen Oria, menenteng kotak bekal yang katanya dibuatnya sendiri, tak peduli hujan maupun panas.Dia tak lagi membuat keributan, hanya diam-diam menatap Oria dengan sorot mata penuh luka dan kasih, seolah Oria adalah perempuan yang mengkhianatinya.Bahkan setelah sekali benar-benar diabaikan Oria, Jusifan menghantam dinding di samping dengan tinjunya, punggung tangannya seketika berdarah dan robek. Dirinya lalu mengangkat tangan yang berdarah itu dan berjalan ke depan mobil wanita itu, lalu bertanya dengan suara serak, "Oria, kalau begini ... bisakah kamu melihatku sekali saja? Satu kali saja ...."Oria duduk di dalam mobil. Melihat kegilaan menyakiti diri demi memperoleh perhatian itu, dirinya hanya merasa mual dan takut seolah isi perutnya teraduk-a

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 20

    Pintu keluar kedatangan internasional dipenuhi arus manusia.Oria mendorong kopernya keluar, mengenakan mantel panjang krem sederhana. Tubuhnya tegap, ekspresinya dingin dan datar.Tiga tahun telah menghapus sisa kepolosannya, menambahkan kedewasaan dan kesejukan yang tenang. Kecantikannya kini makin mengguncang, tetapi dirinya juga makin tak terjangkau.Baru saja dirinya menginjakkan kaki ke tanah air, bahkan belum sempat menghirup udara domestik, dua kelompok orang sudah seperti ikan hiu yang mencium bau darah, dengan cepat mengepung dari dua arah berbeda, memblokirnya di lorong keluar!Di sebelah kiri, dipimpin oleh Zerian.Dia mengenakan setelan jas buatan tangan yang mahal, tubuhnya tinggi ramping, ketampanannya masih sama. Hanya saja, di antara alisnya tertimbun kelelahan yang sulit dihapus dan hasrat berlebihan yang menggelora.Di tangannya ada sebuket besar bunga calla putih yang langka, bahasa bunganya adalah "cinta yang tulus dan penebusan dosa". Dia menatap Oria dengan tatap

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 19

    Saat pertama kali Zerian diarahkan semprotan itu, seluruh tubuhnya segera membeku, di matanya terpancar luka dan keterpurukan yang tak bisa dipercaya.Jusifan justru menjadi lebih ekstrem dan emosional.Ada kalanya dirinya merendahkan diri memohon, menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf, menampar wajahnya sendiri, menceritakan betapa dirinya menyesal, betapa tulus dia mencintai Oria.Terkadang dia kehilangan kendali karena sikap dingin Oria, membuat pria itu mengamuk sambil menghancurkan barang-barang. Bahkan ketika Oria berinteraksi normal dengan teman sekelas, dia menerjang keluar dan menarik gadis itu pergi secara paksa, memicu kepanikan dan laporan polisi.Dia bahkan memanfaatkan kekuatan Keluarga Canadi untuk menekan pihak kampus Oria, menekan pemilik apartemennya, mencoba memutus seluruh jalur sosial dan sumber ekonominya, demi memaksa Oria berkompromi.Kedua saudara itu saling menganggap satu sama lain sebagai penghalang terbesar.Zerian menugaskan orang untuk memantau Jusifa

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 18

    Setelah menyelesaikan urusan putus hubungan dengan Chelsea, Zerian segera kembali ke perusahaan. Dengan kecepatan tercepat dirinya mengatur semua urusan darurat, lalu memerintahkan asistennya, "Segera pesan tiket penerbangan paling dekat ke Laruna! Semua jadwal ditunda!"Saat ini hanya ada satu pemikiran di benaknya yang bergejolak dan mendesak: menemukan Oria! Sekarang juga! Saat ini juga!Dia tidak bisa mentolerir Jusifan mengintai di sisi Oria, apalagi menerima kemungkinan kehilangan diri wanita itu sepenuhnya!Selama belasan jam penerbangan, Zerian sama sekali tak bisa tidur. Di benaknya terus berulang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, sementara kegelisahan dan harapan asing yang nyaris berubah menjadi kepanikan membakar sarafnya.Begitu pesawat mendarat, dia bahkan tidak pergi ke hotel. Berdasarkan alamat yang sudah diselidiki anak buahnya, Zerian segera menyuruh sopir menuju apartemen Oria.Saat senja, matahari terbenam melapisi jalanan Kota Laruna dengan warna emas hang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status