Compartilhar

Bab 7

Autor: Cat
"Kak Zerian!" Dengan panik Chelsea menyentuh punggung pria itu, suaranya bergetar hampir menangis. "Kamu gimana? Sakit nggak? Kita segera ke rumah sakit!"

Alis Zerian mengerut karena dirinya merasa nyeri, keringat dingin merembes di pelipisnya. Namun dia tetap memaksakan diri menenangkan Chelsea, "Nggak apa-apa, cuma luka kecil. Susah payah kamu mau keluar main, masa harus aku rusak suasananya."

"Nggak bisa! Harus ke rumah sakit!" Chelsea bersikeras.

Oria memandangi pasangan yang saling melindungi itu, hanya merasa getir dan sesak.

Tak sanggup tinggal lebih lama lagi, dirinya berdiri dan hendak pergi.

Zerian segera menarik pergelangan tangannya, suaranya terdengar dingin dan menekan. "Kamu mau ke mana?"

"Pulang." Oria berusaha melepaskan diri, sengaja menyindir, "Kenapa? Kamu mau ikut?"

Zerian terdiam, cengkeramannya mengendur sedikit, lama kemudian baru berkata kaku, "Pergilah!"

Oria tersenyum getir, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Orang-orang komunitas buru-buru menengahi, "Kak Zerian, Oria pasti lagi cemburu, cepat kejar dan bujuk dong!"

Zerian menatap arah pintu, alisnya berkerut, tetapi akhirnya hanya berkata dingin, "Nggak usah urus dia, nanti juga reda sendiri."

Oria pulang ke apartemen sendirian. Yang mengejutkan, malam itu baik Zerian maupun Jusifan tidak muncul.

Dia akhirnya mendapat satu malam langka tanpa gangguan siapa pun, tetapi tetap tak bisa tidur nyenyak.

Namun tengah malam, ponselnya tiba-tiba berdering tajam, telepon dari Zerian.

"Oria, segera datang ke rumah sakit pusat kota!" Suaranya terburu-buru dan dingin, bahkan tak menunggu jawaban sebelum segera menutup telepon.

Oria tak tahu apa yang terjadi. Setelah ragu sejenak, dia tetap bergegas ke sana.

Begitu tiba di depan IGD, Zerian segera mencengkeram lengannya, begitu kuat sampai hampir meremukkan tulangnya. "Chelsea kecelakaan! Pendarahan hebat! Dia RH negatif, stok darah tidak cukup! Kamu golongan sama, cepat donor darah untuk dia!"

Oria terpaku, menatapnya tak percaya. "Kamu memanggil aku ke sini cuma mau menyuruh aku donor darah buat dia?"

"Kalau nggak, mau tunggu Chelsea mati? Cepat!" Zerian sama sekali tak memberi ruang penolakan, hampir menyeretnya dengan kasar ke ruang pengambilan darah.

"Aku nggak mau! Zerian lepaskan aku!" Oria meronta, perasaan takut dan marah bercampur jadi satu.

Namun perlawanannya sama sekali tak berarti di hadapan kekuatan Zerian. Dia dipaksa duduk di kursi donor, jarum ditusukkan ke pembuluh darahnya.

Melihat jumlah darah, perawat tak tahan menegur, "Pak Zerian, sudah diambil 1000cc, nggak bisa ditambah lagi! Kalau dilanjutkan, nona ini bisa dalam bahaya!"

Zerian menatap ruang operasi yang lampunya masih merah, sorot matanya dingin dan keras kepala. "Nggak bisa! Chelsea punya gangguan pembekuan darah, ambil lebih banyak buat cadangan! Ambil!"

Jarum dingin terus menyedot darahnya. Oria merasa pusing berputar, seluruh tubuhnya dingin, akhirnya pandangannya menghitam, dan dia benar-benar kehilangan kesadaran.

Saat sadar kembali, Oria mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit, infus masih menancap di punggung tangannya.

Dan Zerian duduk di samping tempat tidur.

Begitu Oria membuka mata, yang didengarnya bukan ucapan khawatir, melainkan bentakan dingin tanpa ampun, "Oria, aku benar-benar nggak nyangka kamu bisa sejahat ini! Kamu bahkan berani utak-atik rem mobil Chelsea! Apa kamu begitu bencinya sampai pengin dia mati?"

Oria tertegun, berkata tak percaya, "Aku nggak! Kapan aku pernah menyentuh mobilnya?"

"Chelsea sendiri yang bilang! Cuma kamu yang sebelumnya pakai alasan pinjam barang buat mendekati mobilnya!" Zerian sama sekali tak percaya padanya, tatapannya setajam pisau. "Buktinya jelas, kamu masih mau debat?"

Oria segera paham, ini lagi-lagi jebakan yang disutradarai Chelsea sendiri!

Dan Zerian tanpa ragu memilih percaya pada wanita itu.

Oria membuka mulut, tetapi menyadari semua penjelasan terasa sia-sia.

Pria itu sudah menjatuhkan vonis mati padanya sejak awal ....
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 23

    Zerian dan Jusifan berlutut di tanah yang dingin dan basah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak akan pernah lagi terbuka untuk mereka, seolah seluruh jiwa mereka telah tercabut.Sejak malam itu, Zerian dan Jusifan seperti kehilangan tulang punggung, benar-benar runtuh.Zerian kembali ke Grup Canadi.Dia menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, dingin sampai tak tersentuh perasaan manusia.Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tinggal di perusahaan, mengisi setiap detik dengan urusan dan rapat tanpa henti, mencoba membius hati yang sudah lama tandus dan mati rasa.Dia berubah menjadi mesin kerja yang sempurna, tindakannya secepat kilat, keputusannya keras tanpa ampun, memperluas wilayah bisnis Keluarga Canadi menjadi makin besar, menumpuk kekayaan makin banyak.Namun di sisinya, tak ada lagi siapa pun. Dia menolak semua perjodohan dan perkenalan, bersikap sedingin es pada setiap wanita yang mencoba mendekat.Dunianya hanya tersisa angka dingin, dokumen, dan permain

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 22

    Zerian dan Jusifan mengerahkan semua cara yang bisa mereka pikirkan.Tekanan kekuasaan, godaan materi, permohonan yang merendah, keterikatan yang gila, bahkan sandiwara menyakiti diri sendiri ....Namun semua itu, di hadapan benteng yang Oria bangun dari sikap dingin dan ketidakpedulian, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan kekacauan dan keputusasaan yang lebih dalam.Akhirnya mereka pun kehabisan tenaga terakhir mereka, lalu menyadari satu fakta yang tak mau mereka akui ....Mereka benar-benar, untuk selamanya, kehilangan dia.Bukan karena dia kejam, melainkan karena merekalah yang dengan tangan mereka sendiri menghancurkan perasaan samar yang mungkin pernah ada itu, bersama harga diri dan hidupnya di masa lalu.Pada suatu senja yang diguyur gerimis, Zerian memarkir mobilnya di sudut jalan seberang apartemen Oria.Dia tidak turun, hanya menatap melalui kaca mobil yang buram oleh hujan, memandangi jendela yang menyala dengan cahaya hangat itu.Dia menelepon nomor yang sudah lama m

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 21

    Sementara itu, Jusifan justru memilih cara lain yang jauh lebih menyesakkan.Dia tak lagi mengirim hadiah-hadiah mencolok, melainkan mulai memainkan kartu "cinta mendalam".Setiap hari dia muncul tepat waktu di bawah gedung kantor dan apartemen Oria, menenteng kotak bekal yang katanya dibuatnya sendiri, tak peduli hujan maupun panas.Dia tak lagi membuat keributan, hanya diam-diam menatap Oria dengan sorot mata penuh luka dan kasih, seolah Oria adalah perempuan yang mengkhianatinya.Bahkan setelah sekali benar-benar diabaikan Oria, Jusifan menghantam dinding di samping dengan tinjunya, punggung tangannya seketika berdarah dan robek. Dirinya lalu mengangkat tangan yang berdarah itu dan berjalan ke depan mobil wanita itu, lalu bertanya dengan suara serak, "Oria, kalau begini ... bisakah kamu melihatku sekali saja? Satu kali saja ...."Oria duduk di dalam mobil. Melihat kegilaan menyakiti diri demi memperoleh perhatian itu, dirinya hanya merasa mual dan takut seolah isi perutnya teraduk-a

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 20

    Pintu keluar kedatangan internasional dipenuhi arus manusia.Oria mendorong kopernya keluar, mengenakan mantel panjang krem sederhana. Tubuhnya tegap, ekspresinya dingin dan datar.Tiga tahun telah menghapus sisa kepolosannya, menambahkan kedewasaan dan kesejukan yang tenang. Kecantikannya kini makin mengguncang, tetapi dirinya juga makin tak terjangkau.Baru saja dirinya menginjakkan kaki ke tanah air, bahkan belum sempat menghirup udara domestik, dua kelompok orang sudah seperti ikan hiu yang mencium bau darah, dengan cepat mengepung dari dua arah berbeda, memblokirnya di lorong keluar!Di sebelah kiri, dipimpin oleh Zerian.Dia mengenakan setelan jas buatan tangan yang mahal, tubuhnya tinggi ramping, ketampanannya masih sama. Hanya saja, di antara alisnya tertimbun kelelahan yang sulit dihapus dan hasrat berlebihan yang menggelora.Di tangannya ada sebuket besar bunga calla putih yang langka, bahasa bunganya adalah "cinta yang tulus dan penebusan dosa". Dia menatap Oria dengan tatap

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 19

    Saat pertama kali Zerian diarahkan semprotan itu, seluruh tubuhnya segera membeku, di matanya terpancar luka dan keterpurukan yang tak bisa dipercaya.Jusifan justru menjadi lebih ekstrem dan emosional.Ada kalanya dirinya merendahkan diri memohon, menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf, menampar wajahnya sendiri, menceritakan betapa dirinya menyesal, betapa tulus dia mencintai Oria.Terkadang dia kehilangan kendali karena sikap dingin Oria, membuat pria itu mengamuk sambil menghancurkan barang-barang. Bahkan ketika Oria berinteraksi normal dengan teman sekelas, dia menerjang keluar dan menarik gadis itu pergi secara paksa, memicu kepanikan dan laporan polisi.Dia bahkan memanfaatkan kekuatan Keluarga Canadi untuk menekan pihak kampus Oria, menekan pemilik apartemennya, mencoba memutus seluruh jalur sosial dan sumber ekonominya, demi memaksa Oria berkompromi.Kedua saudara itu saling menganggap satu sama lain sebagai penghalang terbesar.Zerian menugaskan orang untuk memantau Jusifa

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 18

    Setelah menyelesaikan urusan putus hubungan dengan Chelsea, Zerian segera kembali ke perusahaan. Dengan kecepatan tercepat dirinya mengatur semua urusan darurat, lalu memerintahkan asistennya, "Segera pesan tiket penerbangan paling dekat ke Laruna! Semua jadwal ditunda!"Saat ini hanya ada satu pemikiran di benaknya yang bergejolak dan mendesak: menemukan Oria! Sekarang juga! Saat ini juga!Dia tidak bisa mentolerir Jusifan mengintai di sisi Oria, apalagi menerima kemungkinan kehilangan diri wanita itu sepenuhnya!Selama belasan jam penerbangan, Zerian sama sekali tak bisa tidur. Di benaknya terus berulang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, sementara kegelisahan dan harapan asing yang nyaris berubah menjadi kepanikan membakar sarafnya.Begitu pesawat mendarat, dia bahkan tidak pergi ke hotel. Berdasarkan alamat yang sudah diselidiki anak buahnya, Zerian segera menyuruh sopir menuju apartemen Oria.Saat senja, matahari terbenam melapisi jalanan Kota Laruna dengan warna emas hang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status