“Kamu tidak perlu terlalu berinisiatif dalam hal yang bukan urusan kamu,” ucap Kylar pelan, nadanya datar, tapi cukup tajam untuk langsung memotong niat Dara.Dara berkedip, sedikit terkejut. Dia tidak menyangka responnya akan sekeras itu, meski diucapkan dengan suara serendah itu.“Iya, Pak … saya hanya–”“Cukup.”Satu kata itu keluar tenang, tapi jelas menutup semua ruang untuk melanjutkan.Dara langsung menunduk sedikit. “Baik, Pak.”Kylar tidak mengatakan apa-apa lagi. Tatapannya kembali lurus ke depan, namun pikirannya sudah tidak lagi berada di lobi itu.Di sisi lain, Dara mengepalkan jemarinya pelan, berusaha menahan ekspresi.‘Ck! Kalau begini terus, gimana aku bisa deketin dia? Bener-bener ya si Ryn. Caper banget.’ gerutu Dara dalam hati. Dia menarik napas pelan, mencoba kembali ke peran profesionalnya.“Dara,” panggil Kylar tiba-tiba.Dara langsung menegakkan tubuh. “Iya, Pak?”“Kamu ke mobil duluan,” perintah Kylar, nadanya kembali datar seperti biasa. “Saya ada yang tertin
Read more