Kylar berdiri lagi tanpa banyak bicara, berjalan kembali ke konter. Langkahnya kali ini lebih cepat, lebih pasti, seolah dia sudah mengambil keputusan tanpa perlu berpikir ulang. Ryn hanya bisa menatap punggungnya menjauh, masih mencoba memahami apa yang barusan terjadi. Antara mual yang aneh itu, dan reaksi Kylar yang tidak kalah aneh.Beberapa saat kemudian, Kylar kembali. Di tangannya kini bukan susu yang sama. Susu cokelat.“Coba yang ini,” kata Kylar singkat, meletakkannya di depan Ryn tanpa banyak penjelasan.Ryn menurut. Dia membuka kemasannya pelan, lalu meneguk sedikit, masih dengan sisa ragu.Namun kali ini, tidak ada reaksi. Tidak ada gelombang mual yang tiba-tiba datang. Napasnya perlahan kembali stabil, bahunya yang tadi tegang mulai mengendur sedikit.Kylar memperhatikan itu tanpa komentar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Ryn, mengamati perubahan sekecil apa pun, memastikan semuanya benar-benar baik-baik saja.Setelah itu, dia kembali seperti biasa. Tenang, datar, se
Read more