Gadis bermata biru itu tersenyum lebar, rambutnya tergerai melewati bahu, dan wajahnya tampak jauh lebih dewasa daripada terakhir kali Ryn melihatnya secara langsung.“Ziva?”“Iya, Ibu.” Ziva terkekeh kecil. “Masa Ibu lupa sama anak sendiri?”Ryn sama sekali tidak memedulikan godaan itu. Dia langsung mendekat dan memeluk putri angkatnya erat-erat, seolah ingin mengganti semua waktu yang mereka lewatkan berjauhan.“Ya ampun, kamu kenapa nggak bilang-bilang sama Ibu kalau mau datang? Kamu tahu Ibu kangen banget sama kamu, ‘kan?”Ziva membalas pelukan itu, menyandarkan pipinya sebentar di bahu Ryn. “Mau bikin kejutan buat kalian. Kalau aku bilang dulu, nanti nggak seru.”“Ibu hampir jantungan, tahu nggak?”“Tapi Ibu senang, ‘kan?”“Senang banget.” Ryn mundur sedikit untuk melihat wajah putrinya, lalu mengusap kedua pipinya dengan penuh sayang. “Ya Tuhan, kamu tambah cantik. Terakhir ketemu rasanya baru kemarin, sekarang lebih tinggi dari Ibu.”Ryn kembali memeluk Ziva sebentar sebelum mer
Read more