“Jangan pikir aku nggak berani!” Jihan semakin murka.Ryn masih berusaha melepaskan tangan Jihan dari lehernya. Napasnya tersengal, matanya mulai berair, tetapi alih-alih terlihat ketakutan, dia justru menatap Jihan dengan ekspresi yang perlahan berubah menyebalkan.“Aku bilang ... bunuh aja kalau bisa,” ulang Ryn terbata-bata. “Tapi kalau cuma modal ... cekik-cekik begini, tukang pijat refleksi juga bisa.”“PEREMPUAN SIALAN!”“Ya ampun, iya. Aku perempuan sialan. Tapi sekarang, coba deh, lihat kanan kiri mobil ini.”Jihan mengernyit, tetapi cengkeramannya sedikit mengendur.“Lihat!” Ryn mendesak, suaranya serak. “Kanan. Kiri. Jangan lihat aku terus, emangnya aku pajangan?”Jihan akhirnya melirik ke luar jendela. Dan saat itulah dia melihat mereka.Dua laki-laki berdiri di sisi kanan mobil, sementara dua lainnya berada di sisi kiri. Keempatnya berpakaian gelap, dengan postur tegap dan sorot mata yang sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk ikut bercanda.Mereka tidak berusaha me
Read more