“Ryn sudah lama nggak ketemu,” sapa sosok itu dengan senyum yang terlalu lebar untuk terasa tulus. “Apa kabar?”Suara itu membuat tengkuk Ryn menegang. Aroma parfum pria itu tajam, menyengat, seolah menariknya kembali ke masa yang ingin dia kubur dalam-dalam.Tanpa sadar, tangannya mencari sesuatu yang stabil. Dan menemukan tangan Kylar. Dia menggenggamnya erat. Lebih erat dari yang pernah dia lakukan sebelumnya. Jemarinya dingin.Kylar terkejut sepersekian detik, tapi dia tidak melepas. Justru jemarinya sedikit mengencang. Tatapannya beralih dari wajah Ryn yang pucat ke pria di depan mereka yang kini berdiri santai, kedua tangan dimasukkan ke saku celana.“Baik, Om,” jawab Ryn, berusaha terdengar normal. Suaranya stabil, tapi hanya orang yang sangat peka yang bisa menangkap ketegangannya. “Kenalin, Ky. Ini Om Rio. Adiknya Papa.”Kylar mengangguk sopan. “Selamat sore, Om.”Rio tersenyum lagi, kali ini lebih meneliti. Matanya turun sekilas ke tangan mereka yang saling menggenggam. “Oh,
Last Updated : 2026-02-20 Read more