Ryn sedikit terkejut. “Pagi, Papi.”Di depannya Kael berdiri tegak, rapi, aura wibawanya tetap kuat meski hanya mengenakan kemeja kasual dan celana bahan. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tenang seperti biasa.“Kylar katanya sakit?” tanya Kael langsung, tanpa basa-basi.“Iya, Pi. Demamnya lumayan tinggi dari semalam,” jelas Ryn sopan.Kael mengangguk singkat. “Kamu mau kerja?”“Iya, Pi.”“Papi antar. Tunggu sebentar, Papi lihat dulu Kylar ke atas. Sekalian lihat Ziva.”Tidak anak, tidak ayah. Kalau sudah memutuskan, ya sudah. Tidak ada ruang diskusi.Ryn bahkan belum sempat menolak dengan halus karena Kael sudah melangkah masuk ke dalam rumah. Dia akhirnya duduk di kursi teras, menunggu. Udara pagi masih sejuk, cahaya matahari belum terlalu menyengat. Di kepalanya masih terlintas wajah Kylar yang setengah sadar tadi.Beberapa menit kemudian, Kael turun kembali.“Ayo,” ajaknya singkat.Ryn berdiri. “Iya, Pi.”Daripada dianggap menantu yang tidak sopan, dia menurut saja.Namun begitu s
最終更新日 : 2026-03-02 続きを読む