Tak jauh darinya, Madeleine melihat ayahnya berdiri di tengah para tamu. Napasnya sempat tertahan. Rasa tegang menyusup, tapi ia segera menegakkan bahu dan memasang senyum tipis saat ayahnya melangkah mendekat. "Salam, Yang Mulia," Count membungkuk formal, matanya menelisik. "Aku tidak menyadari Ayah ada di sini," sahut Madeleine. Ia menurunkan tangan, menyembunyikan gelang di balik lipatan gaun. Langkah ceroboh untuk memakainya sekarang. “Festival ini cukup menyita waktu. Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu di sini,” ujar Count, senyumnya tenang, sulit ditebak. “Pasti banyak yang harus Ayah urus,” balas Madeleine. "Beberapa hal memang tidak bisa ditunda. Semakin cepat dibereskan, semakin tenang tidur kita." Madeleine mengerti maksudnya, tetapi wajahnya tetap tenang, seolah percakapan itu tidak mengusiknya sama sekali. "Tentu saja.” “Apa kau sedang terburu-buru?” tanya Count, menatapnya lekat. “Ya, tamu kerajaan menunggu untuk disapa, Ayah." "Begitu? Kupikir kau masi
Last Updated : 2026-02-26 Read more