Kiran melihat Surya yang diam. Tangannya terulur ke arah Surya, menggenggam telapak tangan sang ayah dengan erat.“Yah, aku mengajak Ayah tinggal di sini, jauh dari mereka, hanya agar Ayah hidup tenang tanpa gangguan mereka lagi.” Kiran bicara dengan pelan dan penuh kehati-hatian.“Kamu jangan salah paham, Kiran. Ayah bertanya bukan untuk bermaksud apa-apa, Ayah hanya mau tahu saja.” Napas Kiran berembus pelan. “Kapan Ayah menemui Ibu? Bukankah sudah kubilang, Ayah jangan lagi menemuinya, atau Ibu akan berusaha keras mengubah keputusan Ayah.”“Ayah ingin aku bahagia, ‘kan? Ya, bahagiaku dengan melihat Ayah bahagia, tenang tanpa harus memikirkan sikap Ibu padaku.” Kiran bicara dengan sangat cepat walau takut ayahnya marah. “Aku tahu, sudah lancang mengatur hidup Ayah, tapi ini yang terbaik untuk Ayah saat ini.”Surya mengulurkan tangan lainnya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Kiran. “Ayah paham maksudmu.”“Ayah tidak marah dengan keputusan yang kamu ambil, Kiran,” kata Surya
Baca selengkapnya