Mag-log inSore hari, di area perkemahan.Kiran duduk bersama ayahnya yang sedang menunggu umpan kail disambar ikan.Keduanya duduk dengan damai. Sebagai ayah dan anak yang menikmati hari dengan tenang.“Setelah pulang dari kemah, kita langsung pindah ke kontrakan ya, Yah.” Kiran menoleh pada Surya yang ada di sampingnya.Surya mengangguk-angguk pelan. Tatapannya teralihkan ke Kiran.“Ayah ikut saja apa rencanamu.” Senyum Surya begitu tulus. “Tapi, Ayah mungkin akan ikut kerja, Kiran. Ayah tidak bisa hanya duduk memangku tangan di rumah.” Tatapan Surya kembali tertuju ke air.Hening.Kiran tidak membalas ucapan sang ayah.Surya mengembuskan napas pelan.Dia kembali menoleh ke Kiran.“Ayah tahu kamu mencemaskan kondisi Ayah. Tapi Ayah juga tidak bisa jika harus berdiam diri saja dan hanya bergantung padamu.”“Tapi aku masih sanggup menafkahi Ayah. Uang gajiku dan tunjanganku, lebih dari cukup untuk hidup bersama Ayah.” Kiran menatap sendu. Bagaimana bisa Kiran diam saja melihat pria tua ini beke
Hari berikutnya.Kiran pergi berkemah dengan Surya.Mereka pergi ke tempat yang Surya ingin datangi. Sebuah area perkemahan dengan hamparan kebun teh yang luas.Lalu di dekat tenda tempat mereka berkemah, ada danau yang bisa mereka jadikan spot memancing.[El, aku sudah tiba di lokasi dan baru saja mendirikan tenda.]Kiran mengirimkan nama tempat dia dan ayahnya berkemah, bahkan Kiran mengirim foto tendanya agar Elvano tidak cemas.“Ki, kamu sudah selesai merapikan tendamu?”Suara sang ayah mengalihkan perhatian Kiran dari ponselnya. Kiran menoleh. Bibirnya tersenyum ke sang ayah yang duduk di kursi kecil menghadap ke kompor portable dengan panci kecil di atasnya.Kiran segera menyimpan benda pipihnya ke dalam saku jaket.“Ya, Ayah.” Kiran menghampiri Surya. Duduk di samping sang ayah, Kiran seperti anak kecil yang menunggu makanannya disajikan orang tuanya.“Mienya sudah matang.” Kiran mengangguk.Matanya terus tertuju ke sang ayah yang sedang menyajikan mie di mangkuk.“Hati-hati
Kiran duduk di ruang tunggu lobby.Sampai, Elvano akhirnya tiba di sana.“Sudah luang?” Kiran berdiri menyambut Elvano.“Kenapa tidak naik saja langsung?” Elvano sudah berdiri tepat berhadapan dengan Kiran.Kiran menggeleng. “Tidak enak saja. Aku sedang diskors, tidak nyaman jika berkeliaran di perusahaan.”Melihat Elvano yang diam, Kiran kembali bicara. “Aku bawa makan siang, bagaimana kalau kita makan di taman samping?”Kiran mengangkat paper bag yang dibawanya.Elvano mengangguk pelan. Mana mungkin dia menolak.Mereka pergi ke taman samping.Di bawah pohon rindang, di bangku yang biasa digunakan karyawan melepas penat. Kiran dan Elvano duduk di sana.“Kamu bilang mau pergi dengan ayahmu?” Elvano menatap pada Kiran yang sedang mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag.“Besok, tadi aku baru saja menemui Kak Mila.” Kiran bicara tanpa menatap Elvano.Kiran sibuk menyiapkan alat makan untuk sang kekasih.“Bagaimana? Apa yang dia mau?”Kiran mengangkat pandangan ke Elvano. Sambil m
Siang hari.Kiran pamit ke Surya jika mau mengurus sesuatu.Dia pergi ke kafe setelah menghubungi Mila.Di sana, Kiran melihat Mila yang sudah menunggu.“Kamu benar-benar datang.”Melihat senyum semringah Mila. Kiran tetap memasang wajah datar.Kiran duduk berhadapan dengan Mila.“Sudah berapa bulan?” Kiran bicara tanpa ekspresi.Mila menyentuh perutnya. “Baru dua bulan.”Pandangan Mila tertunduk. “Aku juga baru tahu kalau hamil kemarin. Karena itu, aku bingung.”Kiran mengembuskan napas pelan.“Sekarang kamu maunya bagaimana? Aborsi?”Kiran melihat Mila tersentak karena ucapannya.“Aku tidak tahu.”Jawaban Mila membuat Kiran mengembuskan napas pelan.“Dari kejadian ini, apa kamu sudah sadar apa kesalahanmu?” Kiran bicara dengan tegas. Sorot matanya penuh penekanan.Mila memejamkan mata sejenak sebelum mengangkat pandangannya ke Kiran. “Aku tahu.”“Jika melakukan aborsi, dosamu akan semakin besar karena membunuh bayi yang tidak bersalah.” Kiran kembali bicara. “Tapi jika kamu pertahan
Setelah Mila pergi.Kiran kembali ke unit apartemen ayahnya.Dia berdiri di depan pintu. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskan pelan.Setelah tenang, Kiran lantas masuk untuk menemui sang ayah.Ketika tiba di dalam, tatapan Kiran tertuju pada Surya yang sudah memandangnya.“Mila sudah pergi?” Surya memastikan.Kiran mengangguk. Dia ikut duduk di samping sang ayah.Surya mengembuskan napas pelan.“Ibumu dipenjara, apa ada hubungannya dengan alasan kamu menanyakan soal asal-usulmu?” Surya langsung menebak.Kiran mengangguk pelan. “Tapi Ayah jangan cemas.”Sambil mengusap punggung tangan sang ayah, Kiran kembali berkata, “Ibu tidak akan ditahan lama, Yah. Dia dimasukkan ke kantor polisi, hanya untuk membuat efek jera saja. Paling tidak sampai sebulan Ibu sudah bebas.”Surya mengembuskan napas pelan.“Ayah marah karena aku membiarkan Ibu ditahan?” Kiran memastikan.Dia melihat wajah lelah sang ayah.“Tidak, Ayah tidak marah. Jika memang ibumu bersalah, memang sudah sepatutny
Kiran bergeming mendengar ayahnya marah. Sejauh dalam ingatannya, ayahnya adalah orang penyabar yang jarang sekali membentak, apalagi pada anak-anaknya.“Ayah sekarang juga membentakku demi Kiran?”Tatapan Kiran kini tertuju pada Mila yang masih saja tidak mau berhenti.Tidak ingin membuat ayahnya sakit lagi jika terlalu emosi. Kiran mencengkram lengan Mila.“Ayah di sini saja.” Kiran memperingatkan sebelum menarik paksa Mila menjauh dari ayahnya.Mila tersentak.Dia berusaha memberontak, tetapi cengkraman Kiran terlalu kuat.“Lepaskan, kamu tidak berhak menjauhkanku dari Ayah.”Begitu sampai di depan pintu lift, Kiran melepas kasar lengan Mila.“Lebih baik kamu pergi dari sini dan berhenti mengganggu Ayah.” Suara Kiran penuh dengan penekanan.“Kamu berani mengusirku?! Sekarang kamu benar-benar menjadi pembangkang!”Kiran menatap datar.“Aku memang pembangkang sejak dulu.” Setelah mendengkus kecil. Kiran kembali bicara. “Jika bukan karena Ayah yang sakit, aku tidak akan diam saja men
Sore hari. Dania bergegas berdiri dari kursi lalu menghampiri Elvano yang baru saja keluar dari ruang kerja. “Anda mau bertemu klien sekarang, Pak? Kalau begitu, saya akan bersiap-siap menemani Anda.” Dania bicara dengan penuh semangat. Senyumnya begitu lebar ketika menatap pada Elvano yang berd
“Papa?” Kiran kembali mengulang panggilan gadis kecil ini. Dia masih tak percaya Elvano sudah memiliki anak yang usia sepertinya empat tahun. Gadis kecil mengulurkan tangan pada Kiran. “Mana kuenya?” “Aduh, Non Leya, kenapa buka pintu sendiri?” Sebelum Kiran menyerahkan kue yang dibawanya, s
Tubuh Kiran menegak bersamaan dengan matanya yang melebar. Namun, detik berikutnya mata Kiran sedikit menyipit. Kenapa Dania begitu emosional? Kiran mengembuskan napas pelan, menekan emosinya agar tak meledak. Dia tidak mau ada keributan di kantor. Menghadapi senior seperti Dania, bukan hal baru b
Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik







