“Ya Tuhan, bagaimana bisa aku memiliki anak seperti ini? Sudah menjebloskan kakaknya sendiri ke penjara, memintaku bercerai dari ayahnya. Dosa apa yang kulakukan sampai mendapat balasan seperti ini.”“Kiran, di mana Kiran? Kenapa kamu juga tidak mau menemui ibumu ini, Kiran.”Widya terus meneriaki nama Kiran sambil mengeluh. Sesekali dia meraung, menangis, sampai memukul dada untuk menarik simpati orang-orang.“Kurang apa aku ini sebagai ibu? Aku sudah membesarkannya, merawatnya dengan baik, tapi kenapa balasannya padaku seperti ini?”“Sekarang, dia tak mau menganggapku sebagai ibu lagi.”Para karyawan berkumpul di lobby, menyaksikan tangisan Widya dan keluhan yang Widya katakan.Sedang Sabrina benar-benar gemas dengan kelakuan Widya yang benar-benar di luar batas. Dia berdiri di depan lift, jemarinya saling meremat sambil menunggu Kiran datang.Beberapa saat, salah satu pintu lift terbuka. Sabrina langsung menghampiri begitu melihat Kiran yang keluar dari dalam lift.“Kiran, ibumu be
Read more