Sofia tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi antusiasme pria di depannya. "Jangan, Pak Irawan," cegahnya halus. "Nanti kelihatan mencolok sekali. Lagipula, di istana itu masih banyak orang-orang kepercayaan Rendra. Jadi, jangan gegabah." Irawan terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Kamu benar. Kita harus tetap bermain bersih di permukaan." Sofia menyunggingkan senyum penuh arti seraya merapikan tas mewahnya. Ia bangkit dari kursi. "Saya permisi dulu, Pak. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan." "Baik, Sofia. Terima kasih informasinya," jawab Irawan melepas kepergian wanita itu. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan hitam melaju mulus membelah jalanan Jayakarta dan berhenti tepat di halaman Mansion Narrotama. Sofia turun dengan anggun, melangkah menuju pintu utama. Di dalam ruang tengah, Sintia yang sedang merapikan beberapa rangkaian bunga mendongak. Wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar gembira. "Sofia? Ya ampun, sayang!" seru Sintia hangat,
Last Updated : 2026-08-03 Read more