Kalimat itu masih menggantung di udara.“Saya Tian, tunangannya.”Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Marah? Tidak berhak. Terkejut? Sudah pasti.Sakit?Sepertinya aku tidak seharusnya merasakan itu. Aku menelan ludah. Pelan.Memaksa diriku untuk tetap berdiri tegak di depan mereka.“Begitu. Selamat, ya?”Suaraku keluar. Ringan. Bahkan nyaris terdengar santai.Aku sendiri terkejut. Seolah bukan aku yang berbicara.Silvi menatapku. Ada sesuatu di matanya—bingung, mungkin juga penasaran.“Kamu sudah tahu?” tanyanya hati-hati."Tahu apa?" Aku bertanya heran. Begitu juga Hani, yang sejak tadi terlihat tenang tanpa banyak tingkah atau bicara. Sejenak Silvi terdiam“Eh, enggak apa-apa, Bi,” katanya, membuatku tersenyum kemudian. Senyum yang kupaksakan."Oke. Sekali lagi, selamat ya." Kalimat itu kubuat setenang dan sebahagia mungkin. Meski ada rasa aneh yang tak bisa aku mengerti, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam. Namun, aku tidak boleh terlihat lemah. Tidak di depan mereka.
Last Updated : 2026-04-17 Read more