Aku melihat dengan jelas wajah —ekspresi Tian yang jauh dari yang selama ini ku kenal. Dan jujur saja itu membuatku cemas.Biasanya dia tenang. Sulit ditebak. Selalu seperti dinding tinggi yang tak bisa kutembus. Tapi sekarang, ada sesuatu yang retak di sana.Bukan lemah. Bukan juga kacau. Lebih seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah ia akan membuka pintu yang selama ini dikunci rapat.“Apa maksud Anda?” tanyaku pelan.Tian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan garpu dan pisau dengan rapi di sisi piringnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Dan matanya tidak lepas dariku.“Maksudku,” katanya tenang, “kau terus menebak-nebak apa aku sedang mempermainkanmu, memanfaatkanmu, atau sekadar bosan.”Aku tercekat. Karena itu benar.“Itu karena Anda memang tidak pernah jelas,” balasku cepat, mencoba bertahan.“Dan kau tidak pernah bertanya dengan jujur.”“Aku sering bertanya.”“Tidak.” Ia menggeleng pelan. “Kau menyerang. Bukan bertanya.”Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Last Updated : 2026-05-10 Read more