LOGIN"Bia.""Apa sih!" bisikku tajam. Suara di seberang sana justru terdengar tenang.“Kalau kau meneleponku hanya untuk menyembunyikan setengah informasi, kita buang waktu.”Aku menutup mata sesaat. Menyebalkan. Lagi-lagi dia benar."Mungkin seharusnya saya tidak menghubungi Anda," ucapku kesal juga menyesal. "Kalau begitu, saya matikan panggilannya. Maaf sudah mengganggu. Selamat so—""Kau matikan panggilannya atau aku akan datang ke restoran sekarang?" Tian memotong cepat. Sejenak aku diam. Antara kesal, tapi juga takut jika mengabaikan. “Saya pikir salah satu dari mereka Dendy. Tapi, seperti yang Anda ketahui —sebab memata-matai saya—”"Aku menjagamu, bukan seorang stalker. Apalagi mata-mata." Tian membela diri. "Apa pun itu," balasku tak mau kalah. "Intinya, lelaki itu mungkin bukan Dendy. Tapi, teman ayah yang lain, yang juga kenal saya."Hening. Bahkan suara kendaraan di sekitarku mendadak terasa menjauh.Saat Tian bicara lagi, suaranya berubah lebih dingin dari biasanya."Ada
“Bukan, bukan soal Ibu.” Suara Bu Yana terdengar cepat, seolah takut aku semakin panik. “Ibu kamu tadi masih tidur habis minum obat. Dokter juga bilang kondisinya stabil.”Aku menutup mata sesaat, menghela napas lega.“Oh syukurlah … terus kenapa, Bu?”Ada jeda di seberang sana.“Soal di rumah.”Dadaku kembali menegang.“Rumah kenapa?”“Tadi pagi ada orang datang.”Aku langsung duduk lebih tegak di kursi bus. Kendaraan berguncang pelan melewati jalan berlubang, tapi seluruh fokusku kini hanya pada suara di telepon.“Siapa?”“Dua orang laki-laki. Salah satunya badan besar, pakai kaus hitam.” Bu Yana menurunkan suara. “Yang satu lagi … kayanya enggak asing. Ibu kaya pernah lihat. Temannya ayah kamu itu.”'Dendy. Tapi, bukankah tadi pagi dia datang sama ayah?'Tanganku langsung menggenggam ponsel lebih erat. "Siapa? Ibu kenal? ""Enggak, Ibu enggak kenal."Jeda. Aku memberi kesempatan Bu Yana untuk bercerita. “Mereka ngapain ke rumah?”“Cari ayahmu. Katanya mau bicara soal uang.”Perutku
Lift bergerak naik perlahan.Aku menatap bayanganku sendiri di pintu stainless steel yang memantulkan wajahku samar. Pucat. Tegang. Dan terlalu mudah terbaca.“Aku sedang berusaha melepaskan pegangan itu.”Kalimat itu terus berulang di kepalaku.'Melepaskan pegangan.'Maksudnya Silvi? Keluarganya? Pertunangan itu? Atau semua hal yang selama ini membuat hidupnya terlihat sempurna dari luar? Dan kenapa aku justru memikirkan jawabannya?Aku menghembuskan napas kasar.“Bodoh.”Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, aku berjalan cepat keluar gedung. Matahari siang menyambut dengan panas menyilaukan. Jalanan ramai. Klakson terdengar dari depan. Orang-orang berlalu lalang tanpa tahu dunia seseorang baru saja dibuat kacau di basement beberapa menit lalu.Aku langsung memesan ojek online. Tanganku sedikit gemetar saat mengetik tujuan: kampus.Ponsel bergetar. Satu pesan masuk. Dari Tian."Makan siangmu tadi belum habis."Aku mendelik menatap layar. Kubalas cepat."Rasa kesal saya juga belu
Lift berhenti di basement. Pintu terbuka. Tapi kakiku justru tak langsung bergerak.Aku membenci kenyataan bahwa kalimat terakhirnya berhasil menahanku.'Terlambat menyadari apa?'Aku menatap lurus ke depan, mencoba mengabaikan degup jantung yang tiba-tiba kacau. Namun Tian juga tidak keluar. Ia tetap berdiri di sampingku, memberi ruang, tapi tidak menjauh.Beberapa detik berlalu sampai pintu lift mulai menutup lagi. Secara spontan Tian menekan tombol penahan pintu.“Keluar dulu,” katanya pelan.“Kenapa? Biar Anda lanjut bicara dan saya makin pusing?”“Kau sudah pusing sejak tadi.”Aku mendelik. “Menyebalkan.”“Bukan hanya kamu, sudah banyak orang bilang begitu.”Aku akhirnya melangkah keluar dengan kesal. Sepatuku beradu dengan lantai basement yang dingin. Tian berjalan di belakangku tanpa suara.Begitu pintu lift tertutup, suasana mendadak sunyi. Hanya dengung pendingin ruangan dan suara kendaraan yang sesekali masuk dari kejauhan.Aku berbalik cepat.“Jelaskan.”Dia berhenti dua la
Aku melihat dengan jelas wajah —ekspresi Tian yang jauh dari yang selama ini ku kenal. Dan jujur saja itu membuatku cemas.Biasanya dia tenang. Sulit ditebak. Selalu seperti dinding tinggi yang tak bisa kutembus. Tapi sekarang, ada sesuatu yang retak di sana.Bukan lemah. Bukan juga kacau. Lebih seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan apakah ia akan membuka pintu yang selama ini dikunci rapat.“Apa maksud Anda?” tanyaku pelan.Tian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan garpu dan pisau dengan rapi di sisi piringnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Dan matanya tidak lepas dariku.“Maksudku,” katanya tenang, “kau terus menebak-nebak apa aku sedang mempermainkanmu, memanfaatkanmu, atau sekadar bosan.”Aku tercekat. Karena itu benar.“Itu karena Anda memang tidak pernah jelas,” balasku cepat, mencoba bertahan.“Dan kau tidak pernah bertanya dengan jujur.”“Aku sering bertanya.”“Tidak.” Ia menggeleng pelan. “Kau menyerang. Bukan bertanya.”Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Pelayan meletakkan dua gelas di atas meja. Satu es teh lemon di depanku. Satu kopi hitam tanpa gula di hadapan Tian.Aku langsung meraih gelasku dan meneguk terlalu cepat. Dingin cairannya turun ke tenggorokan, tapi tidak cukup mendinginkan wajahku yang mulai panas.Tian memperhatikan tanpa komentar. Dan itu justru lebih mengganggu.“Apa?” tanyaku tajam.“Kau gugup.”“Saya cuma haus.”“Kau bohong.” Tian meraih cangkir kopinya, menyesap pelan sebab asap masih tampak jelas terlihat di udara. Aku meletakkan gelas sedikit lebih keras dari perlu.“Kalau tujuan Anda datang cuma untuk mengganggu saya, saya bisa pulang sekarang.”“Tapi kau tidak akan pulang.”“Kenapa yakin sekali?”“Karena kau lapar.”Aku menatapnya kesal. Lelaki ini menyebalkan sekali saat sedang tenang.“Aku juga,” tambahnya santai.Aku memalingkan wajah. “Selamat.”Beberapa detik hening. Lalu dia kembali bicara.“Silvi bilang apa lagi padamu?”Aku menoleh cepat.“Kenapa Anda selalu ingin tahu isi pembicaraan saya dengan t







