Sepulang kerja, Bara memarkirkan motor bututnya di samping garasi. Suasana rumah sudah sangat sunyi. Dia menghela napas panjang, mencoba merenggangkan otot punggungnya yang terasa remuk. Saat dia hendak melangkah mengendap-endap menuju pintu samping, sebuah suara lembut memanggilnya dari lantai atas."Baru pulang, Bar? Kok malam banget?"Bara mendongak kaget. Di balkon lantai dua, Tante Marissa sedang berdiri menyandar pada pagar. Dia mengenakan daster tidur satin panjang yang elegan. Tidak ada tatapan menggoda yang liar, hanya sorot mata yang teduh."I-iya, Tante. Tadi beresin alat-alat dulu," jawab Bara gugup."Jangan lewat pintu samping. Masuk lewat pintu utama saja, sudah Tante buka. Tante tunggu di meja makan ya," ucap Tante Marissa sebelum berbalik masuk.Bara menelan ludah. Kakinya terasa kaku bukan karena takut, tapi karena nada bicara Tante Marissa yang terdengar tulus peduli. Sesuatu yang sangat asing bagi Bara sejak merantau ke Jakarta.Di ruang makan, Tante Marissa sedang
Read More