“Assalamualaikum, Zak. Di mana?”“Di Warzam yan, kesini aja. Ada anak-anak juga,” jawab Zaki di seberang telepon.Rian diam sejenak.Pandangannya mengarah ke jendela kamar yang terbuka setengah, menghembuskan udara sejuk di siang itu.“Ya udah, Zak. Saya ke sana. Suntuk di rumah,” katanya akhirnya.Telepon ditutup. Ia berdiri, meraih kunci motor di atas meja, lalu keluar tanpa banyak pikir. Tangga diturini cepat, mesin dinyalakan, dan beberapa menit kemudian ia sudah melaju di jalan.Warzam siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa motor terparkir miring di depan. Zaki duduk di bangku panjang dekat tembok, ditemani Hendoko dan dua anak lain. Gelas plastik berisi kopi sudah setengah kosong di atas meja.“Nah datang juga,” kata Zaki.Rian hanya tersenyum, lalu menarik kursi. “Sumpek di rumah gak ngapa-ngapain.”“Makanya,” Hendoko menyahut.“Hidup kamu tuh kurang kegiatan.”Ia cuma mengangkat bahu.Obrolan mengalir ringan. Tentang masa kelas satu dan dua, lalu berlanjut ke rencana setelah
Last Updated : 2026-05-26 Read more